Akulturasi Budaya Dalam Upacara Adat Pernikahan Pengantin Semarangan

Hai haiii Ezytravelers, punya rencana menikah tahun ini? Udah punya rencana bakal menikah dengan adat daerah mana? Kalau kalian merencanakan pernikahan tanpa prosesi adat, pertimbangkan lagi yuk. Karena Indonesia memiliki beragam suku dengan adat budaya yang unik dan menarik. Terlebih upacara adat pernikahan, masing-masing daerah memiliki keunikan yang berbeda. Seperti adat pernikahan Pengantin Semarangan yang pasti tak banyak diketahui masyarakat umumnya.

Saya tertarik mengulas adat pernikahan Pengantin Semarangan karena balas dendam, hahaa. Iya nih, artikel ini saya dedikasikan untuk kota tercinta Semarang. Tempat saya lahir dan besar di kota Lunpia ini, namun saya tak suskes menjadi Pengantin Semarangan.

Ternyata memang nggak cuma saya yang ingin menghadirkan upacara adat Pengantin Semarangan. Banyak teman-teman saya yang pengen menikah dengan pakaian ala Pengantin Semarangan. Sayangnya panduan atau informasi tempat penyewaan baju pengantin ini kurang terekspos. Jadi akhirnya banyak calon pengantin gagal menggunakan baju adat Pengantin Semarangan untuk hari bahagianya. Dan saya mendapatkan contoh busana Pengantin Semarangan saat berkunjung ke museum Ronggowarsito.

Busana Pengantin Semarangan

Kalo kalian penikmat akulturasi budaya antar bangsa, baca yuk Bubur India di Masjid Pekojan dalam artikel berikut :

http://hellosemarang.com/menikmati-suasana-berbuka-di-masjid-pekojan-semarang/

Kebetulan saya berkenalan dengan perempuan muda yang pernah merasakan jadi Pengantin Semarangan. Namanya Nita dan suaminya, Nanda telah menikah selama empat tahun. Tanggal pernikahan dipilih pas tanggal cantik, yaitu tepat pukul 09.00, 10-11-2012. Nanda dan Nita warga kota Semarang yang akan melaksanakan upacara Ngunduh Mantu dengan busana adat Pengantin Semarangan.

Rupanya sang Ibu Pengantin Laki-Laki menginginkan putra dan menantu perempuannya mengenakan pakaian adat Pengantin Semarangan. Akhirnya saat Ngunduh Mantu, Nita dan suami mengenakan pakaian Pengantin Semarangan. Sebenarnya cukup sulit menemukan tempat persewaan plus penata rias untuk tata cara adat Pengantin Semarang. Namun karena keduanya memiliki banyak saudara, jadi banyak yang bantu untuk mendapatkan pakaian tersebut.

Nita dan Nanda

Niat mulia sang Ibu yang ingin melihat anak-anaknya mengenakan pakaian Pengantin Semarangan patut mendapat apresiasi. Dan saya pun turut merasakan bahagia menyaksikan foto pernikahan Nita dan Nanda.

Pengantin Semarang dipengaruhi oleh budaya Arab, Jawa, Tionghoa, dan Melayu. Adat pernikahan Pengantin Semarang dulu banyak dilakukan oleh penduduk asli kampung Melayu, Pekojan, dan sekitarnya. Wilayah kota Semarang di sini memang banyak dihuni oleh beragam etnis. Kaum pendatang dari Tanah Gujarat, Tionghoa, dan penduduk asli hidup berdampingan dengan harmonis. Di sini lah akulturasi budaya terjadi hingga memungkinkan muncul budaya yang mampu menggaet hati berbagai etnis.

Kalo proses pengenalan sih nyaris sama dengan adat daerah lain. Dimulai dari proses perkenalan, lamaran, baru upacara pernikahan. Perkenalan ini bisa saja dengan dipertemukan oleh kerabat atau orang tua. Ada juga yang dari teman sekolah, teman pergaulan, dan lainnya. Sementara lamaran biasanya dilakukan di rumah orang tua calon pengantin putri. Calon pengantin pria datang membawa ‘Songsongan’. Dari sini mulai dibicarakan tanggal pernikahan, dan yang lainnya.

Upacara pernikahan sendiri terdapat tiga sesi acara. Dimulai dengan ‘lek-lekan dan Ukupan’. Di rumah pengantin wanita biasanya akan dilaksanakan Selametan atau kenduri dengan menampilkan Blantenan (shalawatan) di ruang tamu.

Sementara pengantin wanita melaksanakan Ukupan yaitu ritual luluran, memberi ‘pacar’ (kutek) serta mengukup. Mengukup adalah memberi wewangian dengan asap pewangi pada tubuh calon pengantin wanita. Upacara Ukupan ini dilaksanakan oleh juru rias didampingi kerabat calon pengantin wanita.

Paginya adalah upacara Ijab Kabul yang sama dengan daerah lain. Bisa dilakukan di rumah ataupun di masjid.

kirab pengantin Semarangan

Berikutnya upacara Ngarak atau Kirab Pengantin Semarangan. Rombongan pengantin pria siap di rumah pengantin wanita, bersama pembawa Kembang Manggar. Kelompok kesenian Rodhat atau terbangan berdiri berjajar di dekat pintu masuk. Pengantin Pria dan wanita berjalan diiringi shalawatan dengan kesenian terbangan. Mereka pun duduk di pelaminan bersama orang tua keduanya. Sajian makanan dalam acara tersebut juga yang menjadi khas Semarang. Ada kue Gandjel Rel, Jabika, Lunpia, Ketan Biru, Cucur, Tahu Pong, Wedang Ronde, dan Nasi Kebuli.

Busana Pengantin wanita biasanya disebut model Encik Semarangan. Pengantin wanita mengenakan selop, kaos kaki, sarung tangan. Kebaya yang dikenakan ada yang menggunakan bahan beludru hitam. Atau modifikasi warna cerah agar lebih modern. Namun model kerah tetap Shanghai, dengan bertabur sulam mote. Bagian dahi pengantin dihiasi dengan perhiasan ‘pilis’. Pengantin juga mengenakan hiasan di sanggul (rambut yang digelung), berupa sisir kecil, kembang konde, cunduk mentul sebanyak 24 buah.

busana pengantin Semarangan

Bunga yang dikenakan oleh pengantin wanita adalah bunga melati, cempaka kuning yang dirangkai. Rangkaian bungan ini disebut ‘endok remek’.

Dan untuk pengantin pria mengakan busana yang disebut ‘model Pengantin Kaji’. Hal ini karena biasanya busana terdiri dari gamis panjang, serta celana hitam beludru, dan jas hitam beludru dengan kerah modeh Shanghai. Namun saat ini sudah banyak yang memodifikasi dengan pemakaian jas warna yang lebih modern. Pengantin Pria juga membawa pedang panjang berwarna putih keperakan. Kepala pengantin pria mengenakan penutup yang biasanya bernama ‘kopyah alfiah’.

Saatnya explore Semarang! Ambil promo Tiket pesawat ke Semarang dan Hotel di Semarang yang murah banget. Bisa juga nih kalau mau tour murah keliling dunia, cek di: Paket tour murah

Pengantin Semarangan telah menjadi aset dan ikon budaya masyarakat Semarang yang perlu dilestarikan. Keunikan budaya lokal dapat menjadi aset wisata yang menarik. Semakin banyak yang mengenal budaya adat pernikahan Pengantin Semarangan, akan membangkitkan minat pasangan pengantin untuk mengenakannya. Makin banyak pasangan pengantin yang bakal tertarik melestarikan budaya Semarang. Jadi tak ada salahnya bila kalian mulai melirik adat pernikahan Pengantin Semarang menjelang hari bahagia nanti.

Akulturasi Budaya Dalam Upacara Adat Pernikahan Pengantin Semarangan
5 (100%) 1 vote
(Visited 217 times, 4 visits today)


About

Ibu dua remaja cowok yang suka jalan dan gila baca


'Akulturasi Budaya Dalam Upacara Adat Pernikahan Pengantin Semarangan' have 2 comments

  1. April 12, 2017 @ 12:04 pm Ika Puspitasari

    Aku penasaran dengan pengantin Semarangan ini, biasa cuma liat pengantin adat Jogja stau Solo aja sih

    Reply

  2. April 12, 2017 @ 4:14 pm Lucky Caesar

    Unikk bangeeet mbaak tradisi menikah dengan adat semarang. Persatuaan berbagai budayaa yg dirangkai apik dan syarat akan makna dan sejaraah. Makasih syaringnyaa mbak

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool