Bernostalgia dengan Semarang Tempo Dulu di Stasiun dan Polder Tawang

“Empat penari membikin hati menjadi senang, aduh. Itulah dia malam gembira, gambang semarang.” Itu tadi penggalan lirik lagu yang selalu mengingatkan kita akan kota Semarang, yaitu Gambang Semarang. Lagu tersebut diciptakan oleh grup ”buaya keroncong” Oey Yok Siang, pada tahun 1940, dengan lirik oleh Sidik Pramono.

Uniknya, musik instrumental Gambang Semarang akan menyambut kita setiba di kota Semarang melalui jalur Kerata Api, saat memasuki Stasiun Tawang. Tak sampai satu menit, musik itu pun berhenti, diganti hiruk- pikuk penumpang. Bagi orang Semarang sendiri, lagu ini memang sudah sangat melekat dan “ngangeni”, apalagi yang baru saja tiba di Semarang setelah merantau di kota lain.

Stasiun Tawang Semarang

Stasiun Semarang Tawang masuk di wilayah Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Jika Anda dari arah selatan atau barat Kota Semarang, dari tugumuda bisa melalui Jalan Pemuda. Kemudian lurus hingga menjumpai lampu merah di perempatan Pasar Johar. Setelah itu belok kiri lewat depan Kantor Pos Besar Semarang. Lokasinya hanya sektiar 2 kilometer dari Kantor Pos tersebut. Atau jika Dari Terminal Terboyo Anda bisa naik taksi, Angkutan Kota atau bus umum, dengan jarak tempuh sekitar 10 menit saja.

Tidak banyak perubahan dilakukan sejak pertama dibangun hingga saat ini. Hampir seluruh bagian stasiun dibiarkan utuh seperti aslinya. Justru perbedaan mencolok ada di halaman depan Stasiun Tawang, yang pada jaman belanda digunakan sebagai tempat upacara, pertandingan olahraga dan aktivitas lainnya. Kini lapangan itu berubah menjadi polder yang dikenal dengan sebutan Polder Tawang.

Stasiun Tawang Semarang

Polder Tawang
Keluar dari kawasan Stasiun Tawang, kita disuguhi pemandangan Polder Tawang yang mempesona. Polder Tawang ini berfungsi sebagai protektor air limpahan dari luar kawasan Kota Lama, sekaligus mengendalikan permukaan air di sekitarnya.

Di Polder Tawang terdapat kolam retensi berukuran kurang lebih satu hektar. Sisi kolam bagian timur ada pompa air yang berfungsi sebagai jantung polder, tinggi rendahnya debit air dikendalikan melalui pompa di bagian timur polder. Di sisi polder tawang dihiasi lampu-lampu berjajar yang menambah cantik suasana polder. Lampu tersebut bertengger di bangunan kokoh menyerupai tugu.

Bahkan pada bulan Maret 2015, sempat diselenggarakan sebuah event yang bertajuk “Festival Polder Tawang”. Kegiatan tersebut melibatkan para pemimpin daerah mulai dari Gubernur jawa Tengah dan Walikota Semarang, bersama warga masyarakat kota Semarang. Salah satu rangkaian acara yang menarik adalah lomba memancing ikan di Polder Tawang. Sebelumnya warga bergotong royong membersihkan polder Tawang, kemudian menyebarkan ikan lele dan bawal ke dalam kolam untuk kemudian dipancing bersama.

Polder Timur Tawang Semarang

Polder Tawang bukanlah bangunan peninggalan Belanda, melainkan dibangun oleh pemerintah sekitar tahun 1998-2000 melalui Departemen Pekerjaan Umum. Tempatnya yang strategis membuat masyarakat kadang menghabiskan waktu di sana ketika pagi atau sore hari, salah satunya karena pemandangannya yang menarik. Bila senja dan malam tiba, bangunan-bangunan tua itu berefleksi dengan indahnya di muka air polder.

Polder Timur Tawang Semarang

Bernostalgia dengan Semarang Tempo Dulu di Stasiun dan Polder Tawang
5 (100%) 1 vote
(Visited 1,179 times, 1 visits today)


About

blogger, social media strategist, dan fanboy DC.


'Bernostalgia dengan Semarang Tempo Dulu di Stasiun dan Polder Tawang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool