Dandangan

Dandangan, Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Kudus

Bagi yang saat ini sedang liburan di Semarang, pasti tidak ingin melewatkan tradisi unik yang rutin dilakukan menjelang Ramadhan di Semarang dan sekitarnya kan?!

Kalau di Semarang ada dugderan, di Kudus, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Semarang, ada yang namanya dandangan. Tradisi ini konon sudah ada sejak jaman Raden Ja’far Shodiq atau yang lebih di kenal dengan Sunan Kudus.

Menurut keterangan beberapa sumber, awalnya, dandangan adalah tradisi berkumpulnya para santri di depan masjid Al Aqsha atau yang kini lebih popular disebut Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadan untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. Setelah keputusan awal puasa itu disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kudus, maka dipukullah beduk di Masjid Menara Kudus, yang bunyinya “dang-dang-dang”. Nah, dari suara beduk itulah, istilah dandangan lahir.

Sedikit cerita tentang masjid Menara Kudus. Menurut sejarah yang saya baca, masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdisdari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Bentuknya unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi.

Kembali membahas tentang dandangan. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi dandangan kemudian tidak hanya sekedar mendengarkan informasi resmi dari Masjid Menara. Tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi itu. Dan seiring perkembangannya, dimulainya Dandangan bukan hanya sehari menjelang puasa, tapi dimulai sekitar dua minggu sebelum puasa dan berakhir pada malam hari menjelang sahur pertama.

Tahun ini Dandangan dimulai pada tanggal 8-17 Juni. Para pedagang berjejer memadati sepanjang jalan Sunan Kudus. Ada yang menjual berbagai macam peralatan rumah tangga, celengan dari tanah liat, mainan anak-anak, juga makanan. Sementara kirab akan dilangsungkan pada hari Rabu 17 Juni 2015.

Dandangan

Area ini disterilkan dari kendaraan roda empat selama berlangsungnya dandangan untuk memberi kenyamanan bagi para pengunjung yang kebanyakan datang dengan berjalan kaki. Akan tetapi motor maupun becak masih diperbolehkan melintas.

Dulu saat masih sekolah, hampir setiap hari saya datang ke area dandangan. Bukan menyengaja, melainkan karena memang jalan menuju ke sekolah dari rumah maupun sebaliknya yang paling dekat ya melewati area ini.

Nah kalau Anda sudah sampai Kudus untuk melihat tradisi unik dandangan, jangan lewatkan juga mencicipi kuliner Kudus yang nikmat. Ada lentog, nasi pindang, soto kerbau dan sate kerbau. Sementara untuk oleh-oleh khas Kudus ada jenang Kudus, madu mongso, keciput dan masih banyak lagi yang lainnya.

Begitulah tradisi unik yang rutin diadakan di Kudus menjelang bulan Ramadhan. Bagaimana dengan di daerahmu temans? Ada tradisi unik apa?

Dandangan, Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Kudus
5 (100%) 1 vote
(Visited 1,467 times, 1 visits today)


About

Ibu dua anak, blogger, penulis komik Mak Irits dan #DiaryMamaMie


'Dandangan, Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Kudus' have 4 comments

  1. June 17, 2015 @ 9:13 am murtiyarini

    Kapan ya bisa mencoba suasana ini..Transit semarang biasanya jelang lebaran

    Reply

    • June 23, 2015 @ 12:33 am Rahmi

      Tahun depan mampir Kudus ya mba Arin 🙂

      Reply

  2. June 17, 2015 @ 2:47 pm Anita Makarame

    Duh,,, udah lama ga liat mainan gerabah warna warni itu mak…
    Pengen… Hehe

    Reply

    • June 23, 2015 @ 12:33 am Rahmi

      AKu kemaren ngga beli, sekarang kok malah ikutan kepengen hihihi

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool