Sarekat Islam

Gedung Sarekat Islam, Cagar Budaya di Semarang

Gedung Sarekat Islam, Cagar Budaya di Semarang
5 (100%) 1 vote

Bagi teman-teman yang sedang berburu maupun sudah mendapatkan tiket pesawat murah untuk bepergian, salah satunya ke kota Semarang, tak ada salahnya loh memaksimalkan kunjungannya. Selama ini kunjungan wisata lebih mengarah ke tempat-tempat hiburan, aneka kuliner, museum dan beberapa gedung kuno yang memang tersebar di penjuru kota lunpia ini.

Tentu bagi orang di luar kota Semarang sudah lazim ya saat disebutkan penganan khas kota ini. Apa coba? Iya betul sekali bila jawabannya lunpia. Meskipun banyak makanan yang dijual di berbagai pusat jajanan, tetap saja lunpia menjadi ciri khas Semarang yang selalu diburu oleh para pelancong maupun warga Semarang sendiri. Penganan yang terbuat dari bambu muda dan beraroma khas ini,ย  baik yang berbentuk lunpia basah maupun lunpia goreng selalu menjadi favorit. Bahkan ada spot-spot tertentu di Semarang yang dikenal sebagai penyedia lunpia dengan cita rasa tersendiri. Salah satunya ada di Jl. Pemuda.

Begitu juga saat ditanyakan gedung apa yang menjadi landmark kota Semarang. Yang akan paling sering muncul di benak kita adalah Lawang Sewu dan Gereja Blendhuk. Juga berbagai gedung kuno yang ada di daerah kota lama.

Selain kedua gedung yang masuk ke dalam cagar budaya tersebut, pernahkah teman-teman mengetahui keberadaan Gedung Sarekat Islam?

Gedung Sarekat Islam

Gedung Sarekat Islam sebelum dipugar

Gedung ini dibangun pada tahun 1919 dan dulunya dikenal sebagai Gedung Rakyat Indonesia (GRI). Dibangun berdasarkan swadana dari rakyat pada masa pergerakan, saat itu tokoh pergerakannya adalah Semaun. Gedung tersebut selesai dibangun setahun kemudian dan digunakan untuk berbagai aktivitas. Pada siang hari digunakan untuk sekolah dan malamnya untuk rapat-rapat umum.

Pada gambar di atas tadi tampak sekali kondisinya yang mengenaskan ya. Sempat ada wacana untuk mengubah bentuknya menjadi gedung baru. Namun oleh para penggiat sejarah Gedung SI ini diperjuangkan untuk tetap menggunakan bangunan dasarnya.

Gedung ini pantas menjadi cagar budaya karena menyimpan sejarah Semarang yang penting untuk diketahui. Selain digunakan untuk tempat pertemuan jaman pergerakan, pada Pertempuran Lima Hari di Semarang gedung ini digunakan sebagai pos Palang Merah. Bahkan tokoh-tokoh negara seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Muhammad Yamin dan Dr. Soetomo pernah datang ke gedung ini.

TIKET KE SEMARANG HANYA DI EZYTRAVEL

Gedung Sarekat Islam dijadikan cagar budaya sesuai Keputusan Walikota Semarang no. 640/184/14 tanggal 27 Februari 2014. Saat itu Bp. Hendrar Prihadi masih menjabat sebagai Plt. Walikota Semarang.

Sarekat Islam

Pada gambar di atas tampak bentuk bangunan yang sudah mengalami pemugaran. Gedung SI berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Untuk sampai ke sana paling dekat lewat Jl. MT Haryono, masuk ke gang di sebelah toko sepeda. Kampung Gendong berada di dekat Pasar Langgar.

Semoga Pemerintah Kota nantinya bisa memberlakukan kebijakan perawatan gedung cagar budaya ini dengan baik. Jadi nasibnya sebagai gedung yang terlantar tak akan terulang kembali. Juga agar sosialisasi keberadaannya sebagai cagar budaya terus digaungkan sehingga warga Semarang pun dapat belajar banyak dari sejarah di kota mereka sendiri.

(Visited 561 times, 1 visits today)


About

Ibu dua orang anak yang gemar ngomong gak penting, senang kumpul-kumpul plus ngumpulin buku


'Gedung Sarekat Islam, Cagar Budaya di Semarang' have 10 comments

  1. March 17, 2015 @ 10:19 am Abi Yudhie

    Wahhhh keren, sampe terlupa saya sama Landmark ini padahal pas SD belajar sejarahnya

    Reply

  2. March 17, 2015 @ 10:51 am echaimutenan

    huaaaaa …ini ada disejarah ya…semoga terus dibudidayakan dengan baik ya mb

    Reply

  3. March 17, 2015 @ 11:09 am Idah Ceris

    Taman, tempat ayunan, kolam ikan, dll, ada di sekitar gedung. Aah..pasti nanti jadi ramai. Ngga sendirian lagi gedungnya, ya. ๐Ÿ˜€

    Btw, jdi pingin lumpiaa. ^*

    Reply

  4. March 17, 2015 @ 3:35 pm Hidayah Sulistyowati

    Baru dipugar ya mba? Dulu lewat depan gedung ini bikin merinding

    Reply

  5. March 19, 2015 @ 9:49 am Inung Djuwari

    semoga tidak hanya dipugar saja…tapi tetep dipelihara. Jangan lupakan sejarah ๐Ÿ˜€

    Reply

  6. March 19, 2015 @ 12:00 pm rahmiazizacom

    Udah di Semarang lebih 10 tahun baru tahu ada bangunan ini aku maak, kuper sangad

    Reply

  7. March 20, 2015 @ 10:39 am munif

    Gedung ini dibangun kembali berkat gerakan teman-temen komunitas sejarah di Semarang dan berbagai pihak lain, semoga tetap bisa terawat… ๐Ÿ™‚

    Reply

    • March 20, 2015 @ 11:53 am Uniek Kaswarganti

      Betul Mas Munif, itu di atas sudah saya sebutkan juga teman2 penggiat sejarah yg ikut andil dlm pemugaran ini. Cuma mau nyebut nama Mas Rukardi dkk saya nggak berani karena blm minta ijin pada ybs.

      Reply

  8. January 11, 2016 @ 9:42 am yprastiawan@gmail.com

    Menarik sekali pengenalan gedung gedung bersejarah di Semarang – ini bukti bahwa Semarang pernah menjadi pusat perjuanngan non fisik pra kemerdekaan. Di Semarang awal pergerakan untuk meningkatkan derajat hidup bangsa Indonesia dimulai.

    Reply

  9. January 11, 2016 @ 9:44 am Yudi Prastiawan

    melacak data guna merekontruksi sejarah korelasi RA Kartini, Sosrokartono dengan Kyai Sholeh Darat….

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

ยฉ2017ย HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool