Gulai Bustaman

Gulai Bustaman Pak Sabar dan Rahasia Warisan Resep Lima Generasi

Gulai Bustaman Pak Sabar dan Rahasia Warisan Resep Lima Generasi
5 (100%) 1 vote

Kuliner yang lezat tidak selalu identik dengan tempat makan yang mewah. Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar di Semarang menjadi bukti bahwa warung tenda sederhanapun mampu menyajikan kuliner yang lezat dan rasa yang otentik.

Bustaman adalah sebuah kampung di Semarang yang terkenal sebagai pusat pemotongan dan pengolahan kambing. Nama kampung ini diambil dari nama Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam (1681-1759), seorang asisten Residen yang juga merupakan kakek buyut dari pelukis legendaris Raden Saleh.

Gulai Kambing di Semarang

Di kampung Bustaman, sebagian warganya menggantungkan hidup dari usaha yang berkait dengan kambing. Salah satu yang terkenal adalah resep bumbu dan proses memasak gulai yang berbeda dengan gulai kambing kebanyakan
Jika biasanya gulai kambing dimasak dengan menggunakan santan sehingga menghasilkan kuah yang kental, kuah gulai Bustaman cenderung lebih cair dan jernih.

Hal ini disebabkan kelapa tak dijadikan santan, namun diparut kemudian dijadikan serundeng. Selanjutnya serundeng ditumbuk hingga keluar minyak yang digunakan sebagai pengganti santan. Selain itu ada bumbu lain yang menjadi ciri khas, yaitu campuran berbagai macam rempah-rempah yang merupakan perpaduan resep Jawa dan Gujarat yang diwariskan secara turun temurun. Saat ini resep Bustaman sudah mencapai generasi kelima.

Gulai Kambing di Semarang

Gulai khas Bustaman Pak Sabar dengan kuah yang bening dan lebih jernih

TIKET MAKASSAR KE SEMARANG

Saat ini, tak banyak penjual gulai di Semarang yang menggunakan resep gulai khas Bustaman. Salah satunya adalah warung Pak Sabar yang berlokasi di kawasan Kota Lama. Warung ini dikenal juga dengan sebutan warung gulai Gereja Blenduk, karena lokasinya tepat berada di belakang gereja yang dibangun pada tahun 1742

Meski demikian, ternyata banyak orang salah alamat ketika hendak berkunjung karena di sekitar Gereja Blenduk ada beberapa tempat yang menyajikan menu serupa. Meski sama-sama menyajikan menu gulai kambing, bisa dipastikan rasa yang didapatkan akan berbeda dengan warung Pak Sabar yang menggunakan resep gule khas Bustaman.

Gulai Kambing di Semarang

Gulai khas Bustaman dengan rajangan bawang merah dan nasi

Warung Pak Sabar terlihat tidak menonjol karena berupa warung tenda kuning dan ukurannya tidak terlalu besar. Warung Pak Sabar hanya mampu menampung kurang lebih sepuluh orang, sangat berbeda dengan beberapa restoran di kawasan Kota Lama yang mewah dan besar.

Pak Sabar mulai berjualan gulai kambing sejak tahun 1969 disekitar Kota Lama. Awalnya berjualan dengan cara dipikul dan berkeliling kawasan Kota Lama. Beberapa tahun kemudian mulai menetap di belakang Gereja Blenduk hingga sekarang.

Daging dan jeroan yang digunakan di warung Pak Sabar masih dalam bentuk ukuran besar. Daging dan jeroan baru akan dipotong-potong kecil ketika akan disajikan. Selanjutnya potongan daging dan jeroan ditaruh diatas piring/mangkuk kemudian disiram kuah gulai yang masih panas.

Gulai Kambing di Semarang

Pengunjung di warung Pak Sabar

Cara menikmatinya, gulai diberi taburan rajangan bawang merah mentah dan perasan irisan jeruk nipis. Hasilnya, rasa gulai yang menjadi gurih, segar dan sedikit asam. Jika menghendaki, pembeli bisa menambahkan taburan merica dan gerusan cabai agar menghasilkan rasa lebih kaya dan bervariasi.

Satu porsi gulai kambing dengan nasi dan es teh/es jeruk dibandrol dengan harga kurang lebih Rp 25.000,-. Warung gulai Pak Sabar buka tiap hari mulai pukul 08:00 – 16:00. Biasanya warung akan ramai dikunjungi saat jam makan siang antara jam 12:00 – 14:00.

(Visited 4,255 times, 3 visits today)



'Gulai Bustaman Pak Sabar dan Rahasia Warisan Resep Lima Generasi' have 3 comments

  1. April 3, 2015 @ 4:35 pm Soviana

    Belum pernah nyoba makan di sini. Ada yang mau ngajak? *eh

    Reply

  2. April 4, 2015 @ 8:06 am Inung Djuwari

    Pertama aku makan gulai kambing di Semarang ya di warung tenda ini dan itu sudah lama banget.
    Blm pernah makan disitu lagi 😀

    Reply

  3. April 8, 2016 @ 2:42 pm J. Wisnu Broto

    Gulainya memang enak dari dulu sampai sekarang

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool