Imlek dan Cap Go Meh di Semarang

Imlek di Semarang, Dari Angpau Hingga Cap Go Meh Untuk Keberagaman Bangsa

Vote Us

Halooo Ezytravelers. Saya yang lahir dan besar di wilayah Pecinan Semarang, sejak kecil sudah menikmati suasana imlek yang kental. Menjelang imlek biasanya tetangga yang Tionghoa akan membagikan kue keranjang. Dan pada tanggal 1 bulan pertama penanggalan Imlek, ada beberapa tetangga yang membagi angpau pada anak-anak. Kemeriahan imlek masih berlanjut hingga hari kelima belas yang sering disebut Cap Go Meh. Kebetulan Cap Go Meh tahun ini akan jatuh pada tanggal 11 Februari 2017. Ada apa aja sih perayaan Cap Go Meh nanti? Tentu saja masih sama seperti tahun sebelumnya. Imlek masih identik dengan Angpau dan Lontong Cap Go Meh. Etapi tahun ini ada spesialnya karena katanya, bakal ada sajian Lontong Cah Go Meh untuk keberagaman bangsa. Kegiatannya akan dilangsungkan di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah pada tanggal 19 Februari 2017.

http://hellosemarang.com/wisata-kuliner-seru-di-pasar-gang-baru-semarang/

Sembahyangan di Klenteng

Sembahyangan di Klenteng

Keluarga Tionghoa yang masih menjalani tradisi leluhurnya, biasanya akan mengadakan sembahyangan beberapa hari sebelum tanggal 1 bulan pertama. Kemudian sehari menjelang tahun baru Imlek, keluarga yang muda akan berkumpul di rumah orang tuanya. Mereka biasanya sembahyangan dan menikmati makan malam dalam suasana penuh kegembiraan. Mengenakan baju berwarna cerah dan selalu optimis. Karena dalam suasana Imlek, tidak boleh ada kemarahan.

Yang masih mengikuti tradisi leluhur juga biasanya menyiapkan belasan masakan khas untuk sembahyangan. Namun karena rumit, banyak keluarga yang memesan pada katering khusus masakan untuk Imlek. Bayangkan aja kalo kalian sendirian mesti masak Sup Hisit, Bakmi, Ikan Kakap masak Tausi, Ikan Gurami masak kecap, Ayam Goreng mentega, dan belasan lagi masakan khas Imlek. Bisa capek lah, pingsan!

Sementara itu di daerah Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur, kemeriahan Pasar Semawis berlangsung selama tiga hari. Pada tanggal 24 – 26 Januari yang lalu semua warga kota Semarang, dari pejabat, perwakilan masyarakat, tamu undangan, berkumpul di Pasar Semawis. Banyak acara disuguhkan dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Ada beberapa panggung pertunjukan, seperti Wayang Potehi, atraksi Barongsai dan Liong, Wushu, dan beberapa stand pameran. Dari pagi hingga malam tak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi ada hiasan lampion yang cantik dan instagramable bagi pecinta masak selfie. Saya pun tak mau ketinggalan selfie di sana.

Lampion di Semawis Imlek

Wayang Potehi

Pasar Imlek Semawis ini memang setahun sekali. Namun tiap akhir pekan pun juga ada Pasar Semawis. Hanya tempatnya berbeda, yaitu di Jalan Gang Warung. Buka hanya pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 17.00 – 22.00 WIB. Tentu saja kalo Imlek lebih istimewa karena tak hanya bisa wisata kuliner saja. Namun ada wisata budaya yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.

Sehari menjelang tahun baru Imlek, pasar ini akan ditutup. Keluarga Tionghoa hari itu akan memulai persiapan sembahyangan. Membakar uang-uangan kertas, menyiapkan meja abu, serta masakan khas untuk sembahyangan.

uang kertas untuk sembahyangan

Dan pada hari pertama bulan pertama penanggalan Tionghoa, keluarga yang muda akan berkunjung pada yang lebih tua. Mereka berkeliling dan saling memberi hormat dengan mengepalkan kedua tangan di depan dada. Yang muda sambil mengangguk pada yang lebih tua. Saat keliling ke sanak keluarga ini lah yang dinantikan oleh anak-anak. Apalagi kalo bukan karena pembagian angpau.

Angpau yang dibagikan biasanya untuk mereka yang masih anak-anak atau belum menikah. Jadi meski Ezytravelers sudah bekerja dan masih jomblo, masih mendapat angpau dari orang tua. Tapi tetap boleh berbagi angpau pada yang lebih muda atau famili yang sudah tua. Tuuuh kan, jomblo pun masih ada hikmahnya. Angpau mengalir deras masuk ke rekening, wkwkwkk. Ada juga perusahaan yang memiliki tradisi membagikan angpau pada karyawannya. Atau anak karyawan yang ikut datang saat hari pertama masuk kerja usai libur Imlek. Dan saya beberapa kali juga menikmati pembagian angpau ini setiap tahunnya.

Perayaan Imlek dimulai pada hari pertama di bulan pertama penanggalan Tionghoa. Dan berakhir pada tanggal kelima belas yang juga disebut Cap Go Meh, dan jatuh pada saat bulan purnama. Sementara malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Chuxi atau ‘malam pergantian tahun’.

Saat hari kelima belas yang jatuh pada saat bulan purnama, biasanya warga Tionghoa akan kembali berkumpul. Biasanya orang yang dituakan, atau orang tua akan menyajikan masakan khas. Masakan yang selalu ada setiap Cap Go Meh adalah Kupat atau Lontong opor. Namanya Lontong Cap Go Meh. Menurut saya sih hampir mirip dengan tradisi kupatan saat lebaran Kupat untuk orang Muslim Jawa. Atau hari keenam setelah lebaran Idul Fitri.

Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh isinya berupa irisan lontong, ayam suwir, telur rebus masak pindang, dan sambel goreng. Kemudia diguyur dengan kuah lodeh terong dan ditaburi bubuk kedelai. Kuahnya encer, bukan seperti kuah opor. Rasanya lebih ringan karena kuah yang encer dan ada irisan terong. Rasanya kayak gimana? Yuk dicobain aja kalo kalian berkunjung ke Semarang. Ada beberapa rumah makan yang menyajikan kuliner khas Imlek ini. Salah satu di antaranya adalah di rumah makan Air Mancur. Terletak berdekatan dengan Klenteng Ling Hok Bio di jalan Wotgandul Timur.

Atau boleh juga ikut mencicipinya saat tanggal 15 penanggalan Imlek. Tadi pekerja yang ada di klenteng Tay Kak Sie menyarankan datang saat hari Sabtu, tanggal 11 Februari 2017. Biasanya saat malam hari, kalian bisa ikut menikmati sajian khas Lontong Cap Go Meh. Nah, kalo tanggal 11 Februari enggak bisa hadir, jangan sedih ya. Kabarnya sih akan ada perhelatan akbar Cap Go Meh dipusatkan di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah. Dengan tema keberagaman nantinya akan disajikan ribuan porsi Lontong Cap Go Meh. Ahhh, nggak sabar menantikan perayaannya di Masjid Agung Jawa Tengah. Dekat rumah sih, jadi santai lah kesananya. Ezytravelers, yuk kopdaaaar.

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel Semarang, tour murah, dan Paket Wisata
(Visited 232 times, 1 visits today)


About

Ibu dua remaja cowok yang suka jalan dan gila baca


'Imlek di Semarang, Dari Angpau Hingga Cap Go Meh Untuk Keberagaman Bangsa' have 2 comments

  1. February 11, 2017 @ 9:35 am Sherryl

    There are a couple of medical complications relevant to it.
    o Most folks are overweight on account of processed food consumption. It may appear contradictory, buut also in order to lose weight naturally,
    you need to eat. http://simondrer025blog.ampblogs.com/3-Muscle-Building-Supplements-That-Work-3818518

    Reply

  2. February 21, 2017 @ 7:22 pm Rahmi Aziza

    Liat lontong capgomeh aku kok teringat lentog Kudus yaa… hihi

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool