Klenteng Tay Kak Sie

Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, Cantiknya Memukau

Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, Cantiknya Memukau
4 (80%) 2 votes

Mungkin sebagian besar di antara kita menganggap klenteng di Semarang hanya Klenteng Sam Poo Kong. Namun, sebenarnya banyak sekali kelenteng yang ada di Kota Lumpia ini. Salah satu satu klenteng lain paling populer setelah Sam Poo Kong atau kelenteng gedung batu adalah Klenteng Tay Kak Sie. Meski ukuran lebih kecil pesona arsitektur serta detail pengerjaannya lebih memukau. Maka, kelenteng Tay Kak Sie ini menjadi satu pilihan tempat wisata di Semarang, untuk kategori wisata religi.

Dengan fasada depan klenteng beratap biru tampak mencolok dengan ornamen patung naga yang dibuat dengan detail yang sangat bagus. Area di dalam klenteng ini memiliki atap terbuka untuk memberikan penyinaran yang alami. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, warga keturunan atau etnis Tionghoa di kota Semarang jika beribadah harus pergi ke Klenteng Gedung Batu yang berada di daerah Simongan. Padahal warga etnis Tionghoa sudah dilokalisir pada area yang mudah dipantau di sekitar Kali Semarang, tempat yang sekarang dikenal dengan sebutan Pecinan. Jarak tersebut, bukit Simongan – wilayah kali Semarang, bisa dibilang terlalu jauh mengingat terbatasnya moda transportasi yang ada saat itu. Selain itu, kegiatan bisnis Kota Semarang pada waktu itu juga berpusat di area yang berada di lokasi yang bertolak belakang, area yang sekarang dikenal dengan sebutan Kota Lama.

Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng Tay Kak Sie

Keadaan ini membuat seorang saudagar yang bernama Khouw Ping (Xu Peng) berpikir untuk mencari sebuah solusi. Yang kemudian pada tahun 1724, didirikanlah sebuah rumah pemujaan yang diberikan nama Kwan Im Ting. Kelenteng tersebut pada saat pendirian memiliki ukuran yang kecil, namun lambat laun berubah menjadi pusat keramaian. Begitu juga dengan area di sekitarnya, ikut berubah dan berkembang menjadi padat dan ramai.

Karena tempat tersebut kian dirasa tidak mencukupi, maka perlu untuk dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Akhirnya, dipilihlah sebuah area yang cukup luas di tepian kali Semarang. Pada saat itu tanah masih berupa kebun lombok (cabe). Setahun semenjak dibangun, berdiri sebuah rumah ibadah yang diberikan nama Tay Kak Sie, yang berarti Kuil Kesadaran. Kelenteng ini karena lokasinya dahulunya berada di atas kebun lombok, maka kelenteng ini juga dikenal dengan sebutan Kelenteng gang Lombok.

Kali Semarang pada masa lalu bisa dibilang cukup lebar dan dalam, sehingga bisa dilalui perahu yang hilir mudik mulai dari laut hingga masuk jauh ke pusat Kota Semarang. Kegiatan perdagangan di area ini berkembang semakin ramai. Dan karena pada waktu itu sebagian besar gudang yang berada di area tersebut dimiliki oleh Khow Ping, lama kelamaan masyarakat setempat menyebut kali Semarang tersebut dengan sebutan “Kali Khow Ping”. Yang kemudian sebutan tersebut oleh warga lokal Semarang disederhanakan lagi dan menjadi Kali Koping.

Untuk mengenang salah satu tokoh penting etnis Tionghoa, Laksamana Cheng Ho, untuk periode waktu yang cukup lama, di sungai di depan Kelenteng ini bertambat replika kapal laksamana Cheng Ho. Namun replika kapal ini ukurannya cukup besar, dan karena seringnya banjir melanda Kota Semarang, replika kapal ini beberapa waktu lalu dibongkar.

Klenteng Tay Kak Sie

Area parkir dari Klenteng Tay Kak Sie ini cukup luas, yang memungkinkan salah satu gelaran musik jazz di kota Semarang, Loenpia Jazz, tahun 2014 kemarin yang mengambil lokasi di area pecinan, berpusat di area parkir kelenteng ini. Maka jika sedang liburan di Semarang, jangan lupa mampir ke tempat ini.

(Visited 628 times, 1 visits today)



'Kelenteng Tay Kak Sie Semarang, Cantiknya Memukau' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool