Keliling Pecinan dan Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Semarang

Keliling Pecinan dan Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Semarang
5 (100%) 1 vote

Kota Semarang merupakan salah satu kota dengan perpaduan dari beragam budaya yang jejaknya di masa lalu masih terasa hingga saat ini. Di kawasan kota lama terlihat jelas bangunan bangunan kuno dengan arsitektur khas eropa yang mempesona.

Kawasan Pekojan merupakan kawasan yang dahulunya paling banyak ditinggali oleh orang orang yang berasal dari Koja. Orang Koja sendiri berasal dari daerah Kathiawar dan Gujarat, India tetapi mereka lebih memilih Pakistan India. Kawasan pekojan ini relatif tidak terlalu menonjol, karena mereka kebanyakan beragama Islam, warna kulitnya yang tak berbeda jauh dengan orang Jawa, serta mereka tak terlalu mempertahankan budaya asli darimana mereka berasal. Hal ini sangat berbeda dengan kawasan yang ada di sebelahnya, Pecinan.

kelenteng_tay_kak_sie

Kawasan Pecinan sangat terasa perbedaan atmosfernya. Selain mereka yang berasal dari negeri tirai bambu tersebut memang lebih berhasil pada bisnis dan perdagangan, mereka juga relatif lebih menjaga tradisi dan warisan budayanya. Ditambah lagi dengan keberadaan belasan kelenteng yang warnanya didominasi warna merah menyala yang berada di kawasan pecinan semakin mempertegas atmosfer budaya Cina.

Awalnya, masyarakat keturunan Tionghoa tidak mendiami kawasan Pecinan yang kita kenal sekarang ini, melainkan di daerah Simongan. Sebuah area yang strategis, karena berada di tepi sungai Semarang dan teluk yang menjadi bandar besar pada waktu itu.

Interior-Klenteng-Tay-Kak-Sie

Pada 1740, pemberontakan Cina terhadap Belanda yang terjadi di Batavia merembet hingga Semarang. Namun perlawanan tidak berhasil dan akhirnya semua warga Tionghoa yang berada di Kota Semarang direlokasi ke sebuah area yang saat ini kita kenal dengan kawasan pecinan, hal ini dilakukan agar pihak Belanda lebih mudah untuk pengawasan.

Dengan pindahnya warga Tionghoa ke area baru, hal ini membuat mereka kesulitan dalam melakukan peribadatan. Untuk ukuran waktu itu dengan tidak adanya peralatan transportasi yang memadai, Sam Poo Kong terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Maka kemudian warga Tionghoa mendirikan klenteng di kawasan baru tersebut sebagai tempat beribadah. Salah satu klenteng yang pertama dan terkenal adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok.

Jika Sam Poo Kong telah mengalami banyak perombakan, tidak demikian dengan Klenteng Tay Kak Sie yang tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dengan daun pintu yang kokoh dan tebal dengan ragam ukiran dewa masih terlihat dengan jelas.

Jika klenteng biasanya didominasi hanya satu warna merah, khusus untuk Klenteng Tay Kak Sie warna merah dan biru cukup mendominasi bagian atap dan pintu. Meski demikian, di dalam klenteng, warna merah tetap mendominasi pada sisi altar utamanya. Siapa saja boleh masuk dan memotret di Klenteng Tay Kak Sie ini selama tidak mengganggu mereka yang sedang beribadat. Dan tak hanya Tay Kak Sie, ada banyak kelenteng lainnya di kawasan pecinan ini.

suasana-semawis

Selesai keliling klenteng, kita bisa menikmati sepiring Lumpia Gang Lombok yang sudah terkenal itu, yang memang outletnya tak jauh dari Tay Kak Sie. Tidak terlalu jauh dari Gang Lombok, terdapat Gang Warung, yang tiap akhir pekan saat sore hingga malam hari berubah menjadi surganya kuliner Semarang, Pasar Semawis biasa disebut. Di sepanjang Gang Warung digelar aneka lapak non permanen yang menjual aneka makanan seperti lumpia, bakcang, sate, aneka bubur, soto, nasi goreng, bakmi jawa dan aneka jajanan lainnya.

(Visited 382 times, 1 visits today)



'Keliling Pecinan dan Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Semarang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool