Rumah Tegel

Mampir Sejenak di Rumah Tegel Lasem

Mampir Sejenak di Rumah Tegel Lasem
5 (100%) 1 vote

Ezytravelers, beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi Lasem dan mampir sejenak di Rumah Tegel serta beberapa tempat bersejarah yang ada di sana. Ini merupakan kunjungan pertama saya di Lasem.

Kota yang berjarak kurang lebih 119 km dari Semarang ini bisa ditempuh dalam waktu 3 jam menggunakan bus. Entah mengapa saya merasakan aroma sejarah yang begitu kuat di dalamnya begitu tiba di sana. Apalagi saat menyusuri sudut-sudut kotanya yang sebagian besar bangunannya masih asli sejak jaman kolonial. Saya seolah masuk ke dalam lorong waktu dan berada di masa pra kemerdekaan. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah itu sebagian masih nampak kokoh namun sebagian lain nampak tak terawat.

Ezytravelers pasti sudah tahu kan, Lasem adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang yang memiliki banyak potensi, terutama batik dan wisata sejarahnya. Konon Lasem menjadi tempat persinggahan para pedagang dari Tionghoa yang datang ke Pulau Jawa. Semakin lama makin banyak pedagang Tionghoa yang berdatangan dan memilih untuk tinggal dan menikah dengan wanita pribumi. Sebab itulah banyak bangunan di Lasem yang berdiri dengan arsitektur Tionghoa.

Kedatangan saya di Lasem memang untuk menghadiri acara Lasem Interaktif Festival. Pada acara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan adat dan budaya Lasem secara luas. Acara yang digagas oleh sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama IKKON ini cukup menyedot perhatian berbagai pihak terutama pemerintah Kabupaten Rembang. Bahkan Bupati Rembang bersama jajarannya turut hadir dan meresmikan acara Lasem Interaktif Festival saat itu.

 

Acara Lasem Interaktif Festival memang sengaja diadakan di Omah Londo. Omah Londo yang merupakan bangunan peninggalan Belanda ini sudah mengalami pemugaran, dan kini dibuka untuk umum. Pemilik Omah Londo sangat terbuka dan mendedikasikan Omah Londo sebagai cagar budaya yang patut dilestarikan keberadaannya.

Selesai acara di Omah Londo, saya dan teman blogger, Mia memutuskan untuk mampir sejenak di kawasan Pecinan. Diantar seorang teman kami menuju ke sebuah bangunan bercat merah menyala yang disebut sebagai Tiongkok Kecil Heritage. Puas menyusuri tiap sudut bangunan bercat merah itu, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi kawasan Pecinan tersebut. Bahkan dua kali kami mengitari kawasan pecinan demi  memuaskan keingintahuan kami akan bangunan-bangunan yang meskipun tua masih nampak anggun itu. Di balik tembok-tembok tersebut ternyata berdiri rumah-rumah milik warga keturunan Tionghoa.

Mia mengusulkan untuk mampir sejenak di Rumah Tegel yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Jami’ Lasem. Sebenarnya Rumah Tegel ini dulunya merupakan pabrik tegel merk LZ yang cukup ternama milik seorang pengusaha Tionghoa bernama Lie Thiam Kwie.

Rumah Tegel Lasem

Rumah Tegel sudah tutup ketika kami tiba di sana. Untunglah mbak penjaganya belum pulang jadi kami masih bisa melihat-lihat ke dalam meski sebentar. Namun sayang, pemilik rumah baru saja pergi jadi kami tidak bisa masuk ke dalam rumah utama dan hanya bisa melihat-lihat di teras belakang dan gudang penyimpanan tegel.

Rumah Tegel Lasem

Saya merasakan ada hawa dingin yang menyeruak begitu saya dan Mia memasuki Rumah Tegel. Entahlah dengan Mia. Mungkin karena memang hari sudah sore, atau mungkin karena saya penakut? Sepertinya sih, memang saya yang penakut. Hehe.

Saya memasuki sebuah beranda di belakang rumah yang dulunya mungkin berfungsi sebagai kantor pabrik. Suasana agak gelap karena pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Tumbuhan yang menjalar juga tampak menghiasi di sana-sini. Ada sebuah foto usang sang pemilik pabrik dan beberapa foto lain yang saya tidak begitu perhatikan. Di meja kerja berlapis kaca ada beberapa nota dan kwitansi yang masih tersimpan. Di sudut lain ada semacam rak untuk display sample berbagai model tegel. Berbagai perabot dan beberapa mebel vintage masih dipertahankan hingga sekarang.

Rumah Tegel Lasem

Yuk jalan-jalan ke Semarang sekarang! Cari hotel di Semarang, promo tiket, dan tiket pesawat ke Semarang sekarang!

Saya dan Mia diajak menuju ke sebuah bangunan yang terletak di samping bangunan utama. Sepertinya bangunan ini dulunya berfungsi sebagai gudang tegel. Di teras ada beberapa kursi dan foto-foto noni Belanda. Saya dan Mia berpindah ke banguan lain yang katanya merupakan pabrik tempat tegel di produksi. Berbagai jenis tegel di produksi di sini dengan mesin pembuat tegel yang didatangkan langsung dari Jerman. Katanya hingga sekarang pabrik tegel itu masih produksi kalau ada pesanan. Hanya saja sekarang sudah jarang atau bahkan tidak ada  yang memesan, karena orang-orang lebih memilih lantai keramik yang lebih modern.

Rumah tegel lasem

Petang mulai menjelang, saya dan Mia memutuskan untuk segera keluar dari Rumah Tegel karena kami mesti segera pulang ke Semarang. Kami tak ingin ketinggalan bus dan kemalaman di jalan. Lasem membuat saya ingin kembali dan tinggal lebih lama lagi.

Foto: @jejakjelata

 

(Visited 166 times, 1 visits today)


About

Blogger yang pengen jadi "traveller". Suka baca, musik dan kopi.


'Mampir Sejenak di Rumah Tegel Lasem' have 2 comments

  1. January 2, 2017 @ 9:48 am Dewi 'Dedew' Rieka

    Tegel kuno sekarang banyak dicari lho semoga Rumah Tegel bisa banyak pesanan lagi yaa

    Reply

    • January 3, 2017 @ 9:38 am Ika Puspitasari

      Bagi penyuka barang-barang vintage pasti suka nih kalo rumah tegel open PO ya, hihi…

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool