Masjid Menara

Menelisik Peninggalan Saudagar Yaman di Masjid Menara Semarang

Menelisik Peninggalan Saudagar Yaman di Masjid Menara Semarang
5 (100%) 1 vote

Menelusuri peninggalan sejarah di kota lama saat berkunjung ke Semarang, serasa tak berkesudahan. Konon katanya, jembatan Berok dulu menjadi dermaga kapal milik nelayan yang tengah berlabuh. Sungai di bawahnya yang bermuara di laut semarang, melewati sebuah bangunan masjid yang hingga saat ini masih dipergunakan untuk shalat. Terkenal dengan nama Masjid Menara, merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang.

Menurut cerita yang dituturkan oleh salah seorang imam masjid Ali Mahsun, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1802. Sejumlah saudagar dari Yaman yang memprakarsai pembangunan masjid. Mereka sering melakukan bongkar muat barang dagangan, hingga sebagian besar menetap di kota Semarang. Pemukiman yang makin meluas, membutuhkan tempat untuk shalat. Akhirnya dibangunlah sebuah masjid yang hingga saat ini tetap berada di tepi sungai. Tepat di tepi bibir sungai yang menjadi persinggahan kapal-kapal para saudagar dari berbagai negeri.

hidayah-art

Tampak depan Masjid menara

Pengaruh gaya bangunan seperti masjid di Timur Tengah sangat kentara bila melihat bentuk dan ornamennya. Motif geometrik menjadi ornamen di jendela yang berfungsi sebagai ventilasi. Bahkan tempat shalat yang terpisah di dua bangunan berbeda antara pria dan wanita, mengingatkan saya pada masjid di kota Madinah dan Makkah. Seperti masjid di Bir Ali, Ji’ranah, dan Tan’im, tempat miqot jemaah umroh atau haji yang akan melakukan umroh. Hanya bedanya kalau masjid di sana, tempat shalat untuk wanita ada di samping atau di tempat yang lebih tersembunyi dari pandangan pria. Namun di Masjid Menara ini ruang shalat untuk wanita berada di sisi kanan setelah pintu masuk.

Ruang shalat khusus wanita

Ruang shalat khusus wanita

Masjid Menara terletak di jalan Layur, Kampung Melayu, Kecamatan Semarang utara. Bagi pendatang yang berkunjung di kota Semarang, bisa memilih alternatif tinggal di hotel murah yang dekat dengan kota lama. Anda bisa mengunjungi masjid Menara dengan naik becak dari hotel terdekat, seperti hotel Metro. Tarifnya sekitar Rp. 10.000. Bila anda menginap di hotel yang berlokasi di jalan Pemuda, bisa memilih naik BRT koridor III (Cangkiran – Stasiun Tawang) dan berhenti di halte jalan Layur. Dari situ cukup jalan kaki sepanjang 100 meter, karena bila anda menyeberang rel kereta api menuju utara, pandangan mata akan menatap menara masjid yang menjulang tinggi.

Masjid Menara dilihat dari jalan Layur

Masjid Menara dilihat dari jalan Layur

TIKET KE SEMARANG

Dulu, masjid ini terdiri dari dua lantai. Namun seiring dengan penurunan tinggi tanah setiap tahunnya di kota semarang, lantai satu masjid pun berulang terendam rob dan berlumpur. Bahkan lantai dua yang dulunya berupa kayu menjadi lapuk karena air rob, akhirnya diganti dengan lantai keramik.

Serambi belakang yang menghadap ke sungai Berok

Serambi belakang yang menghadap ke sungai Berok

Ruang bagian dalam tempat shalat untuk pria

Ruang bagian dalam tempat shalat untuk pria

Seperti umumnya, menara masjid berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan adzan. Namun pada masa perang kemerdekaan sekitar tahun 1945 – 1948, sempat berubah fungsi sebagai menara pengawas pantai. Memantau kapal-kapal yang berbendera asing dan menjadi musuh tentara Indonesia. Itulah cikal bakal masjid ini diberi nama Masjid Menara.

(Visited 639 times, 1 visits today)


About

Ibu dua remaja cowok yang suka jalan dan gila baca


'Menelisik Peninggalan Saudagar Yaman di Masjid Menara Semarang' have 6 comments

  1. April 10, 2015 @ 4:28 pm Inung Djuwari

    aku penasaran sama mesjid ini….yuksss bareng2 kesana mbak…

    Reply

    • April 11, 2015 @ 6:49 pm Hidayah Sulistyowati

      Kapan ya, harus diagendakan nih. Jalan-jalan di kota lama, trus numpang shalat di sini, gitu?

      Reply

  2. April 12, 2015 @ 6:24 am Sriyono Suke

    Menurut temen yang kegiatannya menelisik sejarah di Semarang, ceritanya beda banget dengan yang disampaikan sang imam masjid. Menara masjid dulunya adalah mercusuar, pada saat pelabuhan masih di kali mberok. Dan masjid adalah kantornya, yang bangunannya adalah 2 lantai. Saat pelabuhan pindah ke tanjung emas, mercusuar juga dibuat baru di sana, dan bangunan dijadikan masjid oleh warga sekitar. 🙂

    Reply

    • April 12, 2015 @ 9:14 am Hidayah Sulityowati

      Memang ada dua versi mas Don Suke, dan saya pilih versi imam setempat. Kalo dibahas dua-duanya bakal panjang. Eh jadi dapat ide nulis ini di blog pribadi, bisa jelasin panjang kali lebar ya 🙂

      Reply

  3. April 14, 2015 @ 12:04 am Rahmi Aziza

    Wah mba Wati keren ulasannya

    Reply

    • April 23, 2015 @ 9:26 pm Hidayah Sulistyowati

      Masjidnya yang keren dan banyak cerita di balik pembangunannya. Masih ingin mengulas masjid ini menjelang puasa nanti, Inshaa Allah

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool