Menyusuri Tradisi Nyadran Tenong Demangan di Temanggung

Menyusuri Tradisi Nyadran Tenong Demangan di Temanggung
5 (100%) 1 vote

Kali ini kita akan berwisata tradisi menuju Temanggung, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 77 km dari kota Semarang yang bisa ditempuh selama kurang lebih 2-3 jam melalui jalan darat. Sayangnya, untuk transportasi umum seperti bus yang menuju Kabupaten Temanggung ini jarang sekali ditemui dalam keadaan layak atau enak dipandang. Untuk itu, kalau menginginkan sarana transportasi yang memadai dan nyaman bisa menggunakan travel, hanya saja ongkosnya lebih mahal daripada bus.

Kabupaten Temanggung ini menyimpan historis budaya yang sangat kaya, salah satunya adalah tradisi Tenongan. Tradisi ini berasal dari kata Tenong, yakni sebuah wadah serba guna yang terbuat dari anyam-anyaman bambu. Tradisi ini berkembang lebih tepatnya di Dusun Demangan, Desa Candimulyo, Kecamatan Kedu.

Tradisi Tenongan kini menjadi ikon tradisional masyarakat sekitar, sehingga untuk melestarikannya, kegiatan nyadran tenongan ini diselenggarakan setiap tahunnya. Ritual acara ini dilakukan pada waktu pagi hari dan diawali dengan berkumpulnya masyarakat sekitar di komplek makam Kyai Demang. Pemakaman tersebut merupakan peristirahatan terakhir Kyai Demang, leluhur warga dusun tersebut. Di sekeliling makam Kyai Demang, ada pula makam warga dusun Demangan.

isian tenong1

Pertunjukan lantas dimulai. Dari rumah masing-masing, seluruh warga Demangan lantas berjalan beriring-iringan mengusung tenong di kepalanya. Tenongtenong tersebut telah diisi aneka lauk seperti ingkung, sambal goreng, mie dan sayur-sayuran berikut dengan jajan pasar. Aneka makanan itu kemudian dibawa ke pemakaman.

Kegiatan tradisi nyadran ini memang tidak bisa dilepaskan dari tenong. Piranti tradisional tersebut telah menjadi identitas kebudayaan Jawa sebagai tempat untuk membawa makanan. Uniknya dari kegiatan tradisi nyadran di Demangan, seluruh makanan yang disajikan hari itu tidak boleh dicicipi. Mereka meyakini bahwa apabila sampai melanggar hal itu, maka musibah akan muncul.

Ketika semuanya sudah berkumpul, warga lantas melantunkan ayat-ayat suci untuk mendoakan arwah para leluhur. Begitu selesai melantunkan ayat-ayat suci, warga baru boleh menyantap aneka masakan yang tadi dibawanya dengan tenong. Seluruh warga berkumpul serta berbaur menjadi satu tanpa ada sekat atau jarak.

tenong

Kemudian mereka makan bersama dari sebuah tampah, satu tampah biasanya dikepung tiga hingga empat orang. Kebiasaan tradisi nyadran selain merupakan momen untuk mendoakan para leluhur, juga menjadi momen pertemuan bagi seluruh warga sekitar untuk berkumpul dan berinteraksi.

Nah, bagi kalian penyuka wisata sejarah tradisi, ada baiknya segeralah menjadwalkan agenda untuk menyusuri wisata di Kabupaten Temanggung sebelum memasuki bulan puasa Ramadan. Acara budaya ini terbuka untuk umum, bahkan siapa saja yang datang ke acara tradisi nyadran tenong ini bisa turut menikmati aneka makanan yang tersaji sehingga tak perlu khawatir akan pulang dengan perut kosong. Cukup siapkan perut kosong untuk menikmati hidangan beragam ala tradisi nyadran Tenongan.

(Visited 80 times, 1 visits today)


About

cowok tampan yang punya nickname @hyudee yang suka nulis dan kuliner serta hobi foto. salam manis, :)


'Menyusuri Tradisi Nyadran Tenong Demangan di Temanggung' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool