candi cetho

Meresapi Keindahan Candi Sukuh dan Candi Ceto

Meresapi Keindahan Candi Sukuh dan Candi Ceto
5 (100%) 1 vote

Maha karya budaya peninggalan kerajaan di tanah Jawa memiliki nilai artistik dan filosofi yang tinggi. Karena itu selalu menarik mengunjungi berbagai candi yang hingga kini masih tegak berdiri. Dua di antara berbagai candi tersebut adalah Candi Sukuh dan Candi Ceto yang ada di lereng Gunung Lawu. Jika Anda liburan ke Semarang dan ingin mengunjungi kedua candi tersebut, bisa melaluinya lewat Solo. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai kedua lokasi candi tersebut dari Solo.

Candi Sukuh

Candi Sukuh seperti harta karun yang belum banyak diketahui. Candi yang berlokasi di sebuah Dusun yang bernama Sukuh di Kabupaten Karanganyar ini, menyimpan banyak nilai dan keindahan. Mengunjungi candi ini, kita tidak hanya belajar nilai dari relief candi, tapi juga menikmati keindahan alam dari lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian 910m dpl.

candi sukuh

Untuk mencapai Candi Sukuh, jika dari Terminal Tirtonadi Solo, kita bisa naik bus jurusan Solo-Tawangmangu, turun di Karang Pandan. Kemudian naik minibus jurusan Kemuning, dilanjut dengan naik ojek hingga ke kawasan candi. Pemandangan alam pegunungan, dan tanjakan serta turunan tajam menjadi teman perjalanan yang mengasyikkan.

Komplek Candi Sukuh didirikan pada abad 15 M, saat itu Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Suhita, ratu yang memerintah tahun 1429-1446. Beberapa abad kemudian, tepatnya pada tahun 1815, candi ini ditemukan oleh Johnson, di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles.

Tahun 1842 van der Vlis membuat sebuah buku berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Tahun 1864-1867 Hoopermans menulis buku berjudul Hindoe Oudheiden Van Java. Sedangkan, inventarisasi di Candi Sukuh dilakukan oleh Verboek pada tahun 1889, dilanjutkan oleh Knebel pada tahun 1910. Usaha pelestarian Candi Sukuh juga dilakukan oleh Dinas Purbakala sejak tahun 1917.

Komplek Candi Sukuh tidak begitu luas, jika dibandingkan dengan candi lain seperti Borobudur dan Prambanan. Menempati sebidang tanah berundak, gapura utama Candi Sukuh tidak berada tepat di tengah melainkan di sebelah kanan depan. Candi Sukuh menghadap ke barat dengan susunan halaman terdiri dari tiga teras. Ketiga teras tersebut melambangkan tingkatan menuju kesempurnaan.

Relief yang terdapat di komplek tersebut juga melambangkan ketiga dunia, yaitu dunia bawah dilambangkan dengan relief Bima Suci, dunia tengah dilambangkan dengan relief Ramayana, Garudeya, dan Sudhamala, dunia atas dilambangkan dengan relief Swargarohanaparwa. Penggambaran ketiga dunia pada relief-relief tersebut menunjukkan tahapan yang harus dilalui manusia untuk mencapai nirwana.

Secara keseluruhan pola halaman dan penggambaran relief merupakan simbol menuju keabadian atau kesempurnaan yang diwujudkan melalui upacara keagamaan atau ruwat. Ruwat adalah salah satu sarana untuk menaikkan derajat seseorang kepada tingkatan yang lebih suci, yaitu hilangnya mala dari dalam diri atau moksa.

Candi Ceto

Berada pada ketinggian 1470 meter di lereng Gunung Lawu, Candi Ceto menyajikan keindahan alam dan kekayaan mahakarya budaya peninggalan bangsa. Suasana yang hening dan kental aura spiritual, menjadikan tempat ini sempurna untuk berwisata sambil mempelajari makna setiap relief di dalamnya.

candi ceto

Ceto merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti jelas atau jernih. Nama tersebut bisa jadi merupakan gambaran keberadaan Dusun Ceto, yang bisa melihat sangat jelas Gunung Lawu, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Bahkan, jika cuaca cerah, puncak Gunung Sindoro dan Sumbing juga sangat terlihat sangat jelas.

Candi yang hampir selalu berselimut kabut ini merupakan candi Hindu. Secara administratif merupakan bagian dari Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sekitar 300 meter dari candi utama juga ada candi kecil yang masih satu rangkaian, yakni Candi Kethek. Kedua candi tersebut merupakan peninggalan Raja Majapahit terakhir, yakni Prabu Brawijaya V.

Pertama kali ditemukan candi ini merupakan reruntuhan batu dengan 14 teras berundak. Namun sekarang hanya tertinggal 13 teras, 9 di antaranya telah dipugar. Candi ini juga dilengkap dengan Puri Taman Saraswati. Taman yang letaknya tidak jauh dari candi utama ini, terdapat Patung Saraswati yang khusus didatangkan dari Bali.

Yang juga menarik adalah perjalanan menuju kawasan Candi Ceto ini. Dengan jalanan yang berkelok sempit disertai tanjakan dan turunan tajam, membuat siapapun yang melewatinya seolah sedang uji nyali. Namun semua itu terbayar lunas saat melihat Candi Ceto dari dekat.

Begitu turun dari kendaraan, terlihat gapura yang berdiri menjulang dengan anggun, seperti gapura yang biasa dijumpai di Bali. Susunan batu dengan pahatan berbentuk matahari yang menggambarkan Surya Majapahit, lambang Kerajaan Majapahit, terlihat di salah satu terasnya.

Arca phallus yang menjadi simbol Siwa tampak menghiasi candi yang memang menjadi tempat pemujaan Dewa Siwa ini. Patung Brawijaya V serta susunan batu berbentuk lingga dan yoni berukuran dua meter juga menghiasi salah satu sudutnya. Bangunan utama berbentuk trapesium berada di teras paling atas.

 

Pesta Ulang Tahun Ezytravel.co.id yang ke-5 Bagi Bagi Discount dan Kesempatan Memenangkan Tour Ke Korea Gratis
(Visited 263 times, 1 visits today)


About

Aktif mengenalkan Wisata Semarang melalui berbagai media


'Meresapi Keindahan Candi Sukuh dan Candi Ceto' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool