Mesjid Menara Kudus – Simbol Multikultural

Mesjid Menara Kudus – Simbol Multikultural
5 (100%) 2 votes

Sobat Ezytravelers,

Kesempatan libur lebaran kali ini cukup banyak dimanfaatkan para pemudik untuk sekaligus menjadi wisatawan.  Setiap kali berkunjung atau sekedar lewat di suatu objek wisata, pastilah terjadi antrian pengunjung di loket dan banyaknya kendaraan di pelataran parkir bahkan sampai meluber ke luar kawasan. Salah satu obyek wisata religi yang ramai dikunjungi adalah Masjid Menara di Kudus. Keluarga kami pun, yang berkeliling Semarang – Solo -Bojonegoro – Tuban – Semarang menyempatkan mampir sholat di masjid bersejarah ini bersama ratusan jamaah dan peziarah.

Mesjid Menara Kudus disebut juga Masjid Al-Aqsa atau Masjid Al-Manar. Disebut Masjid Al-Aqsa karena menurut riwayat, batu pertama yang diletakkan untuk membuat masjid ini didatangkan dari Baitul Maqdis atau Palestina. Terdapat prasasti berbahasa Arab yang menerangkan bahwa [1] masjid berdiri pada tahun 956H, [2] pendirinya Ja’far Sodiq (yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus), [3] diberi nama Masjid Al-Aqsa, dan [4] terletak di daerah Al-Quds (lidah Jawa kemudian menyebutnya Kudus). Sayang, tulisan pada inskripsi itu sudah sulit dibaca karena banyak huruf yang rusak karena dimakan usia. Namun sejarawan sudah menemukan prasasti yang menuliskan tanggal “peresmian” Masjid Menara adalah 28 Rajab 956 Hijriah atau bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi.

Banyak aspek yang bisa menjadi topik diskusi saat membahas Masjid Menara Kudus, baik dari sisi sejarahnya, keunikan arsitekturnya, mitos seputar masjid dan makam dan tentu saja aspek akulturasi budaya yang berjalan dengan lembut tanpa kekerasan saat ajaran Islam berpadu dengan budaya Jawa yang saat itu menganut Hindu dan Budha. Dalam tulisan ini, sobat Ezytravelers saya ajak sight seeing, melihat selintas kilas bagaimana percampuran kultur tersebut yang secara fisik masih dipertahankan hingga saat ini.

3 copy

Menara dan Gapura

20150723025049 (3)-horz

Masjid Menara merupakan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Jawa dengan Islam Menara mesjd menyerupai bentuk candi-candi Hindu di Jawa Timur. Adanya lorong (regol) serta gapura bentar di halaman depan, serambi, dan dalam masjid adalah corak klasik di Jawa Timur. Unsur Islam yang tampak adalah ornamen yang serba sederhana, sedangkan unsur Indonesia asli tampak pada hiasan tumpalnya (tumpal merupakan salah satu jenis ragam hias geometris yang berbentuk bidang segitiga).

Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang semula saya kira porselin kuno dari Tiongkok. Ternyata piring keramik yang semuanya berjumlah 32 buah itu, dua puluh buah di antaranya berwarna biru dengan berlukiskan masjid, manusia, unta, dan pohon kurma; sedangkan 12 buah piring lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang.

3 copy

Tempat Wudhu

20150723025054

Tempat wudlu ada dua buah, di sisi kiri masjid untuk tempat wudhu laki-laki sedangkan di sisi kanan untuk tempat wudhu perempuan. Masing-masing berukuran panjang 12 m, lebar 4 m, dan tinggi 3 m. Bahan bangunan dari bata merah, lantai dan dindingnya sekarang sudah dipasang ubin keramik. Namun seperti umumnya masjid tradisional Jawa, untuk masuk dan keluar tempat wudhu ada kolam dangkal dengan air mengalir untuk mencuci kaki. Pancuran untuk wudhu berjumlah delapan dengan arca yang diletakkan di atasnya, konon mengadaptasi dari keyakinan Budha, “Delapan jalan kebenaran” atau “Asta Sanghika Marga”. Bentuk tandon air yang menggunakan bahan bata merah ekspose dengan dinding dan lantai keramik menunjukkan harmoni antara klasik dan modern.

3 copy

Gapura Candi di dalam Masjid

20150723025054 (1)-horz

Salah satu keunikan yang bagi kebanyakan penganut Islam barangkali tidak lazim adalah adanya bangunan gapura candi di dalam ruangan masjid. Jamaah masjid dengan tenang melaksanakan sholat di depan gapura. Bagi penganut yang berpandangan sempit mungkin saja hal semacam ini tidak dapat diterima. Tentu saja hal ini bukan topik yang menjadi bahasan kita sebagai traveler yang selalu ingin menemukan keunikan obyek wisata yang kita kunjungi. Adanya gapura candi di dalam masjid ini tentu saja menjadi salah satu spot foto yang menarik pengunjung.

3 copy

Makam Sunan Kudus

makam

Di belakang Masjid Kudus terdapat kompleks makam, diantaranya makam Sunan Kudus dan para ahli warisnya, Makam utama dibuat dalam ruangan tersendiri (dinamakan cungkup) berbentuk bujur sangkar dan ditutup dengan tirai putih. Banyak peziarah yang datang dari berbagai kota di Indonesia untuk memanjatkan doa.

3 copy

Dengan mengunjungi Masjid Menara Kudus, kita bisa melihat akulturasi religi dan budaya yang sangat kental terlihat. Sunan Kudus, melakukan dakwah Islam secara bijaksana (hikmah) dengan kemampuannya melakukan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang sudah punya budaya mapan. Percampuran warisan budaya Hindu-Buddha-Jawa dengan nilai-nilai Islam nampak pada bangunan fisik maupun budaya masyarakat Kudus. Di samping melestarikan tradisi-tradisi, Sunan Kudus juga memelihara simbol-simbol budaya lama, agar nilai-nilai Islam dapat diterima masyarakat tanpa menimbulkan gejolak sosial. Pada era modern ini Masjid Menara Kudus dan masyarakat di sekitarnya dapat menjadi salah satu simbol multikultural di Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Untuk berkunjung ke masjid bersejarah ini, sobat Ezytravelers dapat melakukan perjalanan darat sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Semarang melalui jalur Pantura Timur yang sudah nyaman karena jalannya lebar dan mulus serta banyak obyek kuliner khas yang patut dikunjungi.

Salam traveler!

(Visited 665 times, 1 visits today)



'Mesjid Menara Kudus – Simbol Multikultural' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool