Masjid Agung Demak

Museum Masjid Agung Demak

Demak yang juga dikenal sebagai Kota Wali, terletak di sebelah Timur Kota Semarang. Demak dilalui jalur pantura yang menghubungkan Jakarta – Semarang – Surabaya – Banyuwangi. Jika Anda dalam perjalanan panjang di jalur ini untuk mudik atau berwisata Semarang, Anda bisa berhenti di Masjid Agung Demak untuk melaksanakan ibadah shalat atau beristirahat.

Masjid Agung Demak menjadi cikal bakal berdirinya Kerjaan Islam, sebagai cagar budaya peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak. Di kompleks Masjid yang tertua di Pulau Jawa ini, terdapat sebuah museum.

Masjid Agung Demak

Meskipun bangunannya tidak terlalu besar, Museum Masjid Agung Demak menyimpan benda arkeologi sebagai bukti khasanah budaya zaman Wali Songo yang memiliki nilai historis perkembangan Islam secara nasional pada umumnya dan Demak pada khususnya. Di meseum ini, kita bisa melihat guci hadiah Putri Campa zaman Dinasti Ming abad XIV, Kentongan dan Bedug Wali abad XV, juga benda-benda purbakala lainnya seperti prasasti, gambar-gambar macam Dampar Kencana, Maksurah atau Kholwat, Surya Majapahit yang aslinya masih dapat dilihat di dalam masjid yang monumental peninggalan Glagahwangi Bintoro Demak dari tahun 1478 – 1560 M di bawah pemerintahan Raden Fatah – Raden Patiunus – Raden Trenggono.

Masjid Agung Demak

Di sini kita juga bisa melihat bekas kusen Pintu Bledeg (petir) yang dibuat oleh Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Konon beliau yang memiliki kesaktian itu dapat menangkap petir, kemudian daun pintu yang terletak di tengah Masjid itu dinamakan “Pintu Bledeg”. Konon, pintu bledeg ini merupakan Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 saka atau 1466 Masehi atau 887 Hijriah, yang diprediksi sebagai tanda peletakan batu pertama pembangunan masjid.

Di tengah museum, terdapat kayu jati besar yang sudah terlihat rapuh yang merupakan bekas tiang utama masjid atau soko guru dari Sunan Kalijaga – Kadilangu Demak, Sunan Bonang – Tuban, Sunan Gunung Jati – Cirebon dan Sunan Ampel – Surabaya. Empat batang soko guru ini dikonservasi oleh proyek pemugaran dari pemerintah Republik Indonesia dan Organisasi Konferensi Islam 1983 – 1986 M.

Empat tiang utama masjid tersebut menggambarkan, betapa para Wali menerima agama Islam bersumber dari ajaran Syafi’iyah (Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah), sebagai implementasi Iman, Islam dan Ihsan sebagai landasan karakter umat dan bangsa.

Selain itu, kita juga bisa menemukan Al-Qur’an tulis tangan, alap-alap samber nyowo, tongkat kayu telentang dan dua buah paku Masjid Agung Demak tahun 1721 M atau Paku Buwono I.

Masjid Agung Demak

Anda bisa jadwalkan mungunjungi museum ini untuk menambah pengetahuan dan wawasan juga mengisi waktu saat liburan di Semarang ketika lebaran nanti.

Museum Masjid Agung Demak
5 (100%) 1 vote
(Visited 1,123 times, 1 visits today)


About

A passionate writer, full time transportation provider, a part time junker


'Museum Masjid Agung Demak' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool