Pesona Bangunan Bernuansa Tiongkok, Ini Dia 15 Klenteng di Kota Semarang #2

Vote Us

Jika kita perhatikan baik-baik biasanya di sisi kiri dan kanan interior klenteng selalu ada simbol naga hijau (qing long) dan harimau putih (bai hu), entah itu dalam bentuk lukisan maupun ornamen. Kedua simbol itu melambangkan keseimbangan dalam hidup, energi panas (naga) dan energi dingin (harimau).

Simbol ini juga berdasarkan pada ilmu Kosmologi Tionghoa kuno yang mengenal adanya hewan-hewan mitologi penjaga di empat arah mata angin, naga hijau di arah timur, macan putih di arah barat, burung que merah (zhu-que) di arah selatan, dan kura-kura hitam dan ular (xuan wu) di arah selatan. Keberadaan hewan-hewan mitologi tersebut juga dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat.

Di artikel sebelumnya sudah sempat saya bahas 4 klenteng tertua di Semarang, yaitu Siu Hok Bio, Tek hay Bio, Tay Kak Sie, dan Tong Pek Bio. Sekarang saya lanjutkan lagi dengan beberapa klenteng lainnya yang ada di pecinan Semarang.

5. Klenteng Hoo Hok Bio (1792)
Klenteng Hoo Hok Bio yang didirikan pada tahun 1792 ini pada awalnya dibangun di atas tanah lapang yang berrumput oleh pada saudagar kain yang tinggal di Pecinan bagian utara, maka dari itu banyak juga yang menyebutnya sebagai Klenteng Perumputan. Namun jika kita berkunjung ke sana sekarang, bangunannya sudah dikelilingi pemukiman warga, akses ke sana pun harus melalui gang yang cukup kecil melalui Jalan Gang Warung.

yin yang di halaman klenteng hoo hok bio

yin yang di halaman klenteng hoo hok bio

Banyak simbol tridharma yang bisa kita temukan di sini. Seperti gambar yin dan yang di halaman depan pintu masuk, sebagai lambang ajaran Taoisme. Di sisi kanan bangunan juga bisa ditemukan prasasti-prasasti bertuliskan huruf Cina yang menempel di dinding. Satu hal yang terlihat jelas adalah lukisan relief yang sangat besar di dinding luar yang menggambar kan 3 tokoh: kakek-kakek dengan tongkat, seorang kaisar berjenggot panjang, dan seorang yang sedang menggendong anak. Lukisan relief tersebut merupakan simbol kesejahteraan, keberuntungan dan umur panjang (dari kanan ke kiri), atau lebih dikenal sebagai tiga dewa Fu Lu Shou yang populer dalam kultur tradisional Cina.

6. Klenteng Tan Seng Ong / Wie Hwie Kiong (1814)
Klenteng Wie Hwie Kiong didirikan pada tahun 1814 dan merupakan klenteng yang terbesar yang ada di area Pecinan Semarang. Lokasinya tidak jauh dari Klenteng See Hoo Kiong

tan sen ong

7. Klenteng Ling Hok Bio (1866)
Klenteng Ling Hok Bio ini juga berada di bawah naungan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD). Berlokasi di jalan Gang Pinggir, klenteng ini sudah dibangun sejak 1866. Adapun Sien Bing yang dipuja di sini antara lain Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi) sebagai tuan rumah atau dewa utama, Kwan Seng Tek Kun (Jenderal Perang), Jay Seen Ya (Dewa kekayaan), Hian Thian Siang Tee (Dewa Langit Utara), dan Kwan Im Po Sat (Dewi Kwan Im). Sekilas memang dewa-dewa yang ada di klenteng Ling Hok Bio ini banyak yang sama dengan yang ada di Klenteng Tong Pek Bio.

8. Klenteng See Hoo Kiong (1881)
Klenteng See Hoo Kiong berlokasi di Jalan Sebandaran I, Pecinan Semarang. Bangunan ini pernah mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Semarang sebagai Bangunan Keagamaan Terbaik pada tahun 2005. Yang menarik adalah warna dinding bangunan yang berbeda. Kalau klenteng kebanyakan yang saya datangi warna dominannya merah, di Klenteng See Hoo Kiong kental nuansa coklat. Klenteng ini awalnya untuk ibadah marga Liem namun pada perkembangannya terbuka untuk umum.

see hoo kiong

9. Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio (1905)
Klenteng ini lebih dikenal dengan nama klenteng Grajen, dan merupakan klenteng paling muda yang ada di pecinan Semarang. Klenteng Grajen merupakan klenteng pengobatan, dewa-dewa yang dipuja di sini kebanyakan adalah dewa kesehatan. Ketika masuk kita disambut oleh dua patung Dewa Pintu yaitu Qin Qiong (di sisi kanan) dan Yuchi Gong (di sisi kiri). Umat yang beribadah di sini biasanya memohon nasihat perihal resep untuk berbagai penyakit atau tentang nasib. Ada 120 macam resep dan 50 jenis nasib yang disediakan di sana.

grajen

Diantara klenteng yang saya kunjungi di pecinan, klenteng Grajen menurut saya memiliki interior yang menarik. Kerangka kayunya masih terlihat jelas, ditambah lampu gantung klasik bergaya eropa, dengan lampion-lampion yang digantung di sekitarnya. Di atap juga terdapat tambur (bedug) yang biasanya dibunyikan saat perayaan sen ji (ulang tahun) atau Cap Go (imlek).

(Visited 1,527 times, 1 visits today)


About

blogger, social media strategist, dan fanboy DC.


'Pesona Bangunan Bernuansa Tiongkok, Ini Dia 15 Klenteng di Kota Semarang #2' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool