Prasasti Gondosuli, Menguak Sejarah Masuknya Bahasa Melayu di Tanah Jawa

Jika Anda melintasi jalur selatan Jawa Tengah, tak ada salahnya menikmati pesona wisata Kabupaten Temanggung. Jaraknya dari Kota Semarang sekitar 76 Km, ditempuh dengan kendaraan sekitar 1.5 jam.

Temanggung terkenal dengan keindahan alam karena diapit oleh dua pegunungan yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini. Selain wisata alam ada juga wisata sejarah budaya yaitu Prasasti Gondosuli yang dapat menjadi salah satu tempat yang perlu masuk dalam daftar kunjungan wisata Anda.

Tepatnya prasasti ini terletak di ujung Kecamatan Bulu, yaitu di Desa Gondosuli. Desa tersebut berbatasan langsung dengan Kecamatan Parakan. Prasasti Gondosuli memiliki nilai historis dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu di Indonesia.

Apabila kebanyakan prasasti ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta, maka pada prasasti ini ditulis dengan bahasa Melayu Kuno serta huruf Jawa Kuno. Karenanya prasasti ini disebut menandai masuknya bahasa Melayu ke Indonesia hingga menjadi bahasa nasional negara ini.

isian GONDOSULI3

Memang dari pengamatan akan terlihat banyak batu relief yang berserakan, namun prasasti ini sudah mendapat sentuhan renovasi dibanding saat penemuan awal. Ditandai dengan adanya papan plang Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah juga tertempel berisi peringatan agar siapa saja tidak merusak atau mencuri bagian dari benda bersejarah itu.

Menilik bagian salah satu relief, batu prasasti memiliki panjang 290 cm, lebar 110 cm dan tinggi 100 cm, sedangkan bidang yag ditulis berukuran 103 x 54 cm persegi tertulis Syiwa Om Mahayana, sahin mendagar wa’zt tanta pawerus darma. Artinya kira-kira adalah ajaran berbakti kepada Desa Siwa, Om Mahayana (Orang Besar) di semua batas hutan pertapaan, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendengarkan perbuatan yang baik.

Prasasti ini berisi penghibahan tanah, dimana tanah itu digunakan untuk bangunan suci atau candi, serta untuk memperingati pembangunan patung raja (Hyang Haji) di sebuah preseda yang disebut Sang Hyang Wintang. Ada 14 baris yang tertulis pada batu prasasti. Namun baru sampai baris ke sebelas yang dapat dipecahkan oleh para peneliti.

isian GONDOSULI2

Pada tulisan yang tertera di prasasti, disebutkan tokoh bernama Dang Karayan Pu Palar sebagai pendiri candi dan sering melakukan pertapaan di tempat itu. Prasasti tersebut merupakan bangunan suci Sang Hyang Wintang yang berarti bintang suci. Disebutkan bahwa tempat itu menjadi pertapaan. Tahun sesuai yang tertera pada penyebutan sengkalan yaitu adalah 832 Masehi. Penulisnya diyakini berasal dari Sumatera.

Menurut mitos yang beredar, batu tersebut dapat terbelah apabila ada seseorang yang dapat membaca ke-14 baris prasasti itu. Konon dahulu sempat ada seseorang dapat membacanya dan batu itu membelah sebagian. Bekas belahannya pun hingga kini masih dapat dijumpai dikomplek prasasti.

Diyakini masyarakat sekitar bahwa reruntuhan tersebut hanya merupakan bagian atas candi sementara badan candi masih terpendam di dalam tanah.

Prasasti Gondosuli, Menguak Sejarah Masuknya Bahasa Melayu di Tanah Jawa
5 (100%) 1 vote
(Visited 217 times, 1 visits today)


About

cowok tampan yang punya nickname @hyudee yang suka nulis dan kuliner serta hobi foto. salam manis, :)


'Prasasti Gondosuli, Menguak Sejarah Masuknya Bahasa Melayu di Tanah Jawa' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool