Tahu Pong

Tahu Pong Perempatan Depok Semarang

Tahu Pong Perempatan Depok Semarang
5 (100%) 1 vote

Sobat Ezytravelers

Ceritanya, saya beserta istri, dan putri kami baru saja duduk di Warung Tahu Pong Depok, ketika mbak Endang, “juru masak” menanyakan pesanan, “Kados biasane, mas?” Sudah hafal dia, kalau saya suka tahu pong setengah matang, istri suka tahu emplek telur, dan anak kami suka tahu gimbal telur. Belum sempat sajian terhidang, datang lagi sepasang suami isteri yang belum sempat duduk sudah ditanya dengan akrab oleh mbak Endang, “Putrane mboten ndherek, pak?

Pertanyaan sederhana, semanak, dan penuh kekeluargaan seperti ini belum tentu anda dapatkan saat menikmati kuliner di resto atau café di Semarang. Sebuah gambaran keakraban antara penjual yang peduli dengan pelanggan yang setia. Sampai saat ini mbak Endang mungkin tidak tahu nama saya atau tamu yang datang belakangan tadi. Tapi sapaan akrab seperti di atas tentu sangat mengesankan bagi yang disapa maupun tamu lain yang mendengar atau melihatnya dan menunjukkan betapa dia memperhatikan secara personal sesiapa tamu yang datang berkunjung.

Ternyata bicara mengenai wisata kuliner bukan hanya menarik dari aspek kelezatan hidangan atau variasi menu, tapi juga dari aspek ikatan batin antara pengunjung dan penjual atau warungnya. Bayangkan… dulu saya diajak bapak ke warung ini waktu masih SD/SMP di tahun 1970-an. Waktu itu pak Ridwan (pemilik warung) masih ada dan melayani pembeli. Tahun berganti, setelah saya remaja-dewasa sesekali jajan di sana sampai akhirnya menikah. Setelah berkeluarga, anak istri saya ajak juga menikmati tahu pong di warung yang sama. Sekarang generasi mbak Endang (keponakan pak Ridwan) yang menjadi juru masaknya. Mungkin kalau ada kesempatan foto bersama, bisa seperti iklan di televisi: tiga generasi jajan bareng. Pasutri yang datang setelah saya tadi, pemilik bengkel Sarang Knalpot (orang Semarang tentu tahu), bercerita bahwa sama seperti kami, anak yang ditanyakan mbak Endang tadi sudah sering diajak jajan tahu pong sejak SD, dan bulan depan sudah dilantik sebagai dokter. Beberapa hari sebelumnya juga bersama teman-temannya mampir jajan tahu pong di sini.

Tahu Pong Perempatan Depok memang termasuk waroeng jadoel. Liputan di koran Sinar Harapan (sekarang sudah tidak terbit berubah menjadi Suara Pembaruan), tanggal 5 November 1978 yang klipingnya dipigura dan ditempel di gerobak, (alm) Bapak Ridwan Sunyoto, pendiri Warung Tahu Pong Prapatan Depok ini sudah 33 tahun berjualan tahu pong secara berkeliling (berarti sejak tahun 1945) kemudian mulai mendirikan warung sejak tahun 1950 seperti tertulis di daftar menunya. Pasang surut tentu dialami dalam usaha, namun bertahan sekian lama –70 tahun– di lokasi yang sama dengan satu jenis dagangan tentu sangat patut diapresiasi. Mungkin kelak anak saya juga bisa bercerita kepada anaknya bahwa eyang buyutnya juga pernah dhahar tahu pong di sini.

Variasi Menu Tahu Pong

Tahu pong dibuat dari tahu pesanan khusus yang dibuat pengrajin tahu di Mranggen (Demak). Bukan seperti tahu yang umum dijual di pasar, keistimewaan tahu ini kalau digoreng kering maka bagian tengahnya akan kosong atau kopong dalam istilah Semarang, sehingga disebut tahu pong. Kalau pesanan saya tadi, minta digoreng setengah matang, maka efek kopongnya tidak muncul. Menu yang disediakan di sini serba tahu tentu saja, seperti tahu gimbal (semacam bakwan udang yang tipis renyah), tahu emplek, tahu pong, dan tahu kopyok. Masing-masing menu tadi bisa ditambah telur. Setiap porsi cukup besar untuk 2-3 orang dengan harga mulai dari Rp 13.000 sampai Rp 24.000.

Sebagai pasangan untuk menyantap aneka olahan tahu tadi, selalu disediakan kuah yang terdiri dari air bawang ditambah kecap dan petis. Bagi yang tidak suka petis, bisa minta supaya tidak ditambahkan petis. Penyegarnya adalah acar lobak yang lebih cocok dihidangkan bersama aneka masakan tahu pong ini daripada acar timun. Menurut mbak Endang, bahkan ada pelanggan yang khusus membeli acar lobak ini untuk pengobatan. Bagi yang gemar pedas, disediakan cabai yang tidak ditumbuk (diuleg, Jw) tapi digiling dengan mesin giling tangan yang umurnya hampir setua warung tahu pong ini. Minuman yang tersedia hanya teh dan jeruk (panas atau dengan es), atau es sirup. Oh, ya.. Warung Tahu Pong Perempatan Depok buka mulai pukul 17.00 dan biasanya tutup pukul 23.00 WIB.

Berkunjung dan jajan di Warung Tahu Pong Perempatan Depok ini selain kenyang perut juga bisa menjadi ajang nostalgia bagi sebagian pengunjungnya. Perbincangan antar pengunjung pun bisa bervariasi mulai dari pilihan menu hingga perbandingan harga saat tahun 1970-an ketika seporsi tahu pong Rp 275-Rp 300 (harga premium masih Rp 75/liter) dibandingkan dengan harga saat ini.

Kalau anda belum pernah mencicipi tahu pong khas Semarang, mampirlah. Bagi yang sudah lama tidak jajan tahu pong, mari berkunjung ke Semarang dan bernostalgia.

Salam traveler!

(Visited 1,374 times, 3 visits today)



'Tahu Pong Perempatan Depok Semarang' have 4 comments

  1. April 20, 2015 @ 6:59 am Hidayah Sulistyowati

    Bapak juga yg ngajak aku dan adik-adik makan tahu pong di sini. Kesukaan kami sama, makan tahu dikasih acar lobak. Dan ternyata, suamiku juga sering diajak bapaknya kesini. Kegiatan yg kami lanjutkan pada anak2 juga. Mungkin kelak sama cucu2 kami juga, Pak Dwi 🙂

    Reply

    • April 20, 2015 @ 7:22 am Dwi Pramono

      Nah, ternyata tidak sedikit yang punya memori dengan warung jadul. Jadi pengin survei kecil-kecilan, mengapa orang berkunjung dan berkunjung kembali ke suatu warung atau lokasi kulineran.

      Reply

  2. April 20, 2015 @ 2:55 pm Inung Djuwari

    hmmmm jadi pingin makan tahu pong….sudah lama bangettt nggak makan tahu pong. Terakhir makan tahu pong yang ada di jalan gajah mada.

    Reply

    • April 20, 2015 @ 3:14 pm Dwi Pramono

      Kalau yang di Gajahmada lebih nyaman saat menjamu tamu luar kota, mbak Inung. Lokasinya permanen, lantai 2 ber-AC (cmiiw sudah lama nggak ke sana).

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool