Uniknya Tradisi Mbayahi dan Kesenian Reog di Boyolali

Uniknya Tradisi Mbayahi dan Kesenian Reog di Boyolali
5 (100%) 1 vote

20160720_mbayahi-reog-boyolali-5

Ada cerita menarik yang saya jumpai ketika mudik Lebaran ke kemarin, yaitu tentang kepercayaan dan adat Kejawen yang masih sangat kental melekat di  Boyolali, Jawa Tengah. Boyolali adalah sebuah kota yang terkenal dengan susu sapinya, jaraknya dari Kota Semarang sekitar 85 Km melewati tol Bawen.

Cerita yang saya maksud adalah tradisi “Mbayahi”, Sebuah upacara arak-arakan dan padusan untuk seseorang (biasanya sudah menjadi buyut) yang telah mempunyai anak, cucu dan cicit berjumlah 25 orang. Kemeriahan acara seperti ini hampir menyerupai meriahnya karnaval ketika acara 17-an. Ramai sekali, bahkan warga satu kampung pun turut turun ke jalan untuk meramaikan.

Masih bingung?

Jadi begini penjelasannya: misalkan kita mempunyai 5 anak dan semuanya sudah menikah, lalu lahir 10 cucu, kemudian semua cucu tadi menikah dan melahirkan 10 anak yang disebut cicit, maka kita sudah memenuhi syarat untuk “Bayahan”. Menurut penjelasan dari orang tua di kampung, Mbayahi adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan umur panjang, keluarga yang banyak hingga punya buyut, dan sebagai ajang kumpul seluruh keluarga, karena dalam tata cara tradisi tersebut seluruh anggota keluarga lengkap berkumpul untuk dimandikan massal.

20160720_mbayahi-reog-boyolali-4

Adapun tata cara upacaranya adalah mengarak seluruh keluarga yang jumlahnya 25 orang keliling kampung dengan buyut berada di posisi depan untuk  diantar ke ke kali/sungai/sendang besar yang airnya mengalir, lalu semua keluarga mandi di sana. Namun pada acara yang kemarin saya ikuti, tidak semuanya mandi sampai basah, anak dan cucu hanya membasuh muka dan badan saja. Khusus untuk buyut, yang dimandikan dan dioakan. Untuk doa yang dirapal, saya sendiri kurang begitu paham, hanya Tuhan dan juru kunci yang tahu. Setelah selesai mandi, kemudian seluruh anggota keluarga diarak kembali mengelilingi kampung untuk kembali ke rumah tinggal. Acara mandi diselingi tari-tarian kuda, dan ketika arak-arakan berangkat serta pulang diiringi dengan alunan gamelan dari reog.

20160720_reog-boyolali

Sebagai rasa syukur, biasanya keluarga besar tersebut memberikan hiburan berupa reog, wayang atau seni musik tergantung kemampuan finansial keluarga. Reog sendiri termasuk kesenian yang sangat populer di kota yang terkenal dengan susu ini, khususnya di Kecamatan Karanggede. Antusias penontonnya bahkan bisa mengalahkan jumlah penonton goyangan Inul Daratista atau konser Rhoma Irama. Tak hanya orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak hingga orang lanjut usia (lansia) pun gemar menyaksikan atraksi Reog.

20160720_reog-boyolali-3

“Mas, nonton reog,” ajakan adik ipar saya sambil menarik-narik celana. Padahal masih kecil, umurnya baru 4.5 tahun dan perempuan, tapi betah bila nonton reog dan wayang sampai malam.

Reog di sini lebih mendekati kepada kesenian kuda lumping, karena menampilkan tarian kuda, tarian prajurit, nyanyian dari sinden yang diiringi  musik gamelan, kendang, drum, seruling dan orgen yang beriringan dengan gelang yang bergerincing di kaki para penari. Kemudian yang paling ditunggu-tunggu adalah tarian mistis para penari ketika mengalami kesurupan, seperti atraksi kekebalan tubuh terhadap pecut, makan kembang, makan beling, mengupas sabut kelapa memakai mulut lalu disundul sampai pecah memakai kepala. Bahkan baru-baru ini saya menjumpai atraksi penari yang dilindas motor.

Kesurupan tidak hanya terjadi pada penari reog, tetapi bisa menular kepada penabuh gamelan dan penyanyi, bahkan penonton pun bisa kena sasaran kesurupan. Dengan kata lain, semakin ngeri dan semakin berbahaya sebuah atraksi kesurupan, maka akan semakin banyak juga penontonnya. Di Boyolali banyak sekali grup dan jenis kesenian seperti ini, namun apapun itu masyarakat tetap menyebutnya dengan julukan “Reog”.

(Visited 175 times, 1 visits today)


About

Holiday Runner yang lagi rajin renang, Tertarik dengan street photography dengan kamera handphone Owner www.slamsr.com


'Uniknya Tradisi Mbayahi dan Kesenian Reog di Boyolali' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2017 HelloSemarang.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool