Pelabuhan Tanjung Mas

Mengenal Lebih Dekat Pelabuhan Tanjung Mas

Total
0
Shares

Ning Pelabuhan Tanjung Mas Kene. Biyen Aku Ngeterke Kowe. Ning Pelabuhan Semarang Kene, Aku Tansah Ngenteni Kowe.

Sepenggal lirik lagu Tanjung Mas Ninggal Janji dari penyanyi legend Didi Kempot ini menceritakan kisah romansa di salah satu pelabuhan besar di Pulau Jawa yaitu Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sejak tahun 1985 ini berjarak 5 km dari Tugu Muda Semarang.

Seperti pelabuhan pada umumnya, Tanjung Mas memiliki fasilitas-fasilitas yang memudahkan aktivitas lalu-lintas pelayaran.

Misalnya pemecah gelombang, alur Pelayaran, kolam pelabuhan, dermaga, fender, gudang dan terminal seluas 3000 m².

Pelabuhan Tanjung Emas juga didukung dengan peralatan: Kapal Tunda, Kapal Pandu, Kapal Kepil, Gudang, Lapangan Penumpukan dan alat Bongkar.

Sebagai Tempat Berlabuh Kapal Besar

Pelabuhan Tanjung Mas
Sumber: translogtoday.com

Ada yang menarik pada tahun 2016 lalu, berbagai media di Indonesia menyoroti kedatangan 20 lebih cruise ship (Kapal pesiar) dari mancanegara yang renacananya akan singgah di kota Semarang melalui Pelabuhan Tanjung Emas.

Walaupun rata-rata dari turis yang datang tersebut tujuan utamanya untuk melihat kemegahan Candi Borobudur di kota Magelang, Jawa Tengah.

Direktur SDM dan Umum PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III, Toto Heliyanto bahkan menyatakan bahwa sekali datang, kapal pesiar bisa mengangkut 1.500 hingga 2.000 wisatawan mancanegara.

Akan lebih menarik apabila wisatawan bisa diarahkan untuk mengunjungi berbagai destinasi lintas kota Jogja – Solo – Semarang (Joglosemar).

Karena banyak sekali tempat yang bisa memberi pengalaman baru bagi wisatawan seperti Keraton (Solo & Jogja), Candi Gedong Songo, Lawang Sewu, Candi Prambanan dan lainnya.

Masih ditambah lagi wisata kuliner yang tidak kalah menariknya.

Sejarah Tanjung Mas

Pelabuhan Tanjung Mas Tempo Doeloe
Foto Tanjung Mas Tempo Dulu

Di balik kemegahan pelabuhan Tanjung Mas Semarang saat ini, siapa yang tahu kalau zaman dahulu sekitar abad ke 16.

Lokasi Pelabuhan di Kota Semarang justru berada di Bukit Simongan, yang lebih dikenal dengan nama daerah Gedong Batu, di mana terdapat klenteng Sam Po Kong.

Kelenteng ini bahkan dahulunya merupakan sebuah masjid yang didirikan oleh Cheng Ho, seorang Laksamana dari Tiongkok yang beragama Islam.

Suatu saat salah satu awak kapalnya sedang sakit dan Cheng Ho memutuskan untuk singgah di pantai Utara kota Semarang untuk pertama kalinya.

Tidak heran jika kita menemukan Patung Cheng Ho di Klenteng Sam Po Kong sebagai monumen yang mengingatkan kejadian tersebut.

Karena terjadi sedimentasi atau endapan lumpur secara terus menerus sehingga menyebabkan sungai yang menghubungkan samudera dengan pusat kota menjadi tidak dapat dilayari.

Bahkan pada muara sungai terbentuk dataran pasir yang sangat menghambat pelayaran. Akhirnya pada tahun 1868 dilakukan upaya pengerukan lumpur oleh beberapa perusahaan di kota Semarang.

Serta dibuat kanal pelabuhan baru yang saat itu diberi nama Nieuwe Havenkanaal atau lebih dikenal dengan Kali Baru.

Kemudian perahu-perahu mulai dapat berlayar kembali sampai ke pusat kota untuk menurunkan dan memuat barang-barang.

Sejak saat itu banyak sekali kapal dari luar negeri yang berlabuh di Pelabuhan Semarang.

Menurut info terdapat 985 kapal uap dan 38 kapal layar dari berbagai negara (Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Swedia, Norwegia, Perancis) yang berlabuh di Semarang pada tahun 1910.

Mercusuar Willem III

Mercusuar Willem III
Sumber: medcom.id

Bicara Pelabuhan Tanjung Mas tidak bisa lepas dari bangunan bersejarah yang satu ini, yaitu mercusuar Willem III.

Mercusuar ini merupakan satu-satunya mercusuar yang berada di Provinsi Jawa Tengah, dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1884 dalam rangka menjadikan kota Semarang sebagai kota pelabuhan dan dagang.

Salah satu komoditas yang saat itu sedang naik daun di Semarang adalah ekspor gula ke luar negri.

Seperti kita ketahui, pada abad 20 Kota Semarang memiliki seorang konglomerat tersohor yang memiliki perusahaan gula terbesar di Asia Tenggara, sekaligus penghasil gula terbesar kedua di dunia (setelah Kuba).

Meskipun sudah berusia ratusan tahun lamanya, Mercusuar Willem III masih terlihat tegak dan kokoh berdiri.

Fungsi bangunan masih berjalan dengan baik untuk memberi petunjuk bagi pemandu kapal yang sedang berlayar.

Selain itu juga, berfungsi sebagai penanda daerah bahaya, menghindari tabrakan dengan batu karang, hingga memberitahu bagian laut yang dangkal.

Mecusuar ini memiliki peran navigasi yang sangat penting yaitu Menara Suar, Rambu Suar dan Pelampung Suar.

Sebelum memasuki gerbang mercusuar, kita bisa menikmati objek wisata perahu yang dibuka mulai pukul 08.00 s.d. 16.00.

Kemegahan Mercusuar Willem III ini juga pernah diabadikan dalam perangko yang dikeluarkan pada tahun 2007 silam.

Baca Juga: Rawa Pening, Legenda Danau Klasik yang Menawan

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like