Puncak gunung salak

Tanjakan Iblis di Puncak Gunung Salak Bogor

Total
0
Shares

Selalu ada lokasi legendaris di setiap gunung bagi pendaki.

Atau ada kisah yang sebagian di antaranya merupakan mitos penuh bumbu-bumbu penyedap. Beberapa menarik untuk didengar, sisanya menyebalkan untuk dinikmati.

Bahkan bisa menjadikan sebagian dari mereka yang tadinya berminat menjadi kendor semangat gara-gara mendengar kisah ‘horor’ yang dibesar-besarkan itu.

Bogor sebagai tujuan wisata memiliki obyek kunjungan yang komplit.

Ekowisata (ecotourism) yang menjadi salah satu wisata di Bogor bersanding mesra dengan wisata alam dan wisata kota (city tour).

Hal ini menjadikan Bogor sebagai alternatif destinasi liburan bagi wisatawan lokal khususnya yang datang dari Jakarta.

Baik yang akan menggunakan layanan Hotel di Bogor ataupun hanya sekedar menghabiskan liburan saja.

Puncak Gunung Salak

Gunung salak bogor

Kebun Raya sebagai target utama pengunjung Bogor bukan hal aneh lagi. Orang-orang dari Dejatabek (Depok, Jakarta, Tangerang, Bekasi) berburu kuliner bukan cerita baru.

Bogor juga menawarkan tiga gunung untuk para pendaki: Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak.

Dari ketiga gunung itu, Gunung Salak yang memiliki reputasi yang kurang baik. Itu kesimpulan saya berdasarkan cerita yang beredar perihal gunung tersebut.

Dan itulah sebabnya mengapa Gunung Salak tidak begitu diminati.

Tanjakan Iblis di Puncak Gunung Salak Bogor

Tanjakan iblis di puncak gunung salak
Sumber gambar: detik.com

Sebenarnya rugi besar bila Gunung Salak dicoret dari daftar pendakian. Banyak hal menarik di balik gunung yang buat sebagian pendaki dianggap menyeramkan itu.

Itu hanya bisa dinikmati jika kita sendiri yang melakukan pendakian.

Bila cuma mendengarkan cerita orang, yang didapat bisa jadi malah “kudapan yang banyak pemanis buatan dan penyedap tapi beracun”.

Hal menarik sekaligus memicu adrenalin, misalnya, adalah jalan yang berayun-ayun karena terbentuk dari jalinan akar pepohonan.

Jalan akar itu bisa dilewati dengan cara menghadap ke pohonnya dan mencengkeramnya untuk pegangan.

Sementara itu, di bawah dan di belakang kita menganga jurang dengan kedalaman ratusan meter. Risikonya tentu saja nyawa bila kita tidak hati-hati.

Dari tempat itu pula, kita bisa menyaksikan Puncak Salak II (2.180 Mdpl) yang memiliki ketinggian sedikit lebih rendah dari Puncak Salak I (2.211 Mdpl) dan sangat jarang didaki karena medannya yang sulit ditembus.

Buat pemburu petualangan penuh tantangan, hal semacam ini pasti tak akan dibiarkan begitu saja.

Hal lain yang menantang dan hanya ditemukan di Gunung Salak adalah apa yang saya sebut Tanjakan Iblis.

Bila Gunung Gede punya Tanjakan Setan, Gunung Salak juga memiliki tanjakan sejenis.

Jika di Tanjakan Setan pendaki dibantu dengan tali baja yang dibentang dari atas ke bawah, Tanjakan Iblis tak memilikinya.

Sebagai alat bantu mendaki atau pegangan saat turun, ada bekas spanduk yang dibentuk menjadi tali. Itu pun saya temukan beberapa tahun yang lalu.

Bila Anda mendaki sekarang, bisa jadi tali dari spanduk itu sudah hilang. Yang lebih sulit lagi bila dibandingkan Tanjakan Setan yang terbentuk dari bongkahan batu gunung.

Tanjakan Iblis berupa tanah liat dan batu berlumut yang begitu licin bila sehabis hujan.

Hanya Ada Beberapa Tonjolan Batu Untuk Pijakan Atau Pegangan

Tanjakan gunung salak
Sumber gambar: @adiwkf

Penasaran? Anda harus mendaki Gunung Salak jika ingin merasakan “nikmatnya” Tanjakan Iblis.

Tempat awal mendaki bisa dari Pasir Reungit yang bisa ditempuh dari pertigaan Cibatok, Leuwiliang, atau melalui Wana Wisata Cangkuang, Cidahu, Cicurug.

Tetaplah mendaki dengan penuh kehati-hatian. Abaikan segala kisah mistis tentang Gunung Salak. Lakukan persiapan dengan baik karena alam tak bisa dilawan.

Yang bisa kita lakukan hanyalah berdamai dengannya, tapi bukan berdamai dengan cerita isapan jempol yang mengelilingi Gunung Salak.

Kunjungi Juga:

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like